Zefanya 3:9-20
“ TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita. Ia membaharui engkau dalam kasihNya, Ia bersorak sorak karena engkau dengan sorak sorai.”
Zefanya 3:17
Apa jaminannya bahwa kita pasti akan menang? Tuhan ada di tengah-tengah kita. Bukan karena keahlian atau kepintaran kita. Bukan karena kekayaan atau kedudukan kita kemenangan akan kita raih, tetapi karena TUHAN ada di antara kita.
Kehadiran Tuhan dilambangkan dengan TABUT Perjanjian…
- peperangan Israel & Filistin 1 Sam 4:6-7
- menyebrangi sungai Yordan Yos 3:14-15
- rebut Yerikho – Yos 6:11
Bagian Tuhan memberikan kemenangan kepada kita – itu PASTI, Dia yang memberikan garansi.
Lantas … bagian kita apa? Mari kita periksa ayat-ayat yang tadi kita baca. Kita akan menemukan KARAKTER seorang PEMENANG.
1. Bibir yang Bersih
“ Tetapi sesudah itu Aku akan memberikan bibir lain kepada
bangsa-bangsa yakni bibir yang bersih…”
Zefanya 3:9
Kita akan meraih kemenangan jika kita menjaga bibir kita tetap bersih…
• Bebas sampah. Bebas dari kebohongan, bebas dari penipuan, bebas dari caci maki, bebas dari fitnah dan juga bebas dari gosip.
• Kalau kita ingin melihat hari-hari kita baik, bisnis kita baik, rumah tangga kita baik dan juga pelayanan kita baik, maka kita harus menjaga bibir kita agar tetap bersih.
“ Siapa mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.”
I Petrus 3:10
Jika kita ingin menang maka kita harus menghiasi bibir kita dengan perkataan iman… percayalah Tuhan akan memberikan kemenangan atas setiap masalah yang kita hadapi Bil 13:30
• Kita harus memakai bibir kita untuk menceritakan kebaikan Tuhan kepada orang lain. Bukan menceritakan kekurangan dan kejelekan orang lain … karena semua kita masih punya banyak kekurangan!!!
2. Hati Yang Rendah
“ Di antaramu akan Kubiarkan hidup suatu umat
yang rendah hati…”
Zefanya 3:12a
Kalau Saudara ingin menjadi lebih dari pemenang, maka Saudara harus tetap rendah hati.
• Jika Saudara dipakai Tuhan dengan luar biasa atau Saudara diberkati dengan limpah, jangan sampai Saudara tinggi hati.
• Mengapa? Sebab kesombongan akan menyebabkan Saudara mengalami kekalahan dan kehancuran. Sebab itu waspadalah terhadap roh kesombongan!
Saudara masih ingat kisah raja Uzia?
Alkitab menuliskan, sewaktu belum diberkati dan belum terkenal, raja Uzia hidup dalam takut akan Tuhan, serta melakukan apa yang benar di mata Tuhan.
• Selama dia mencari Tuhan segala usahanya berhasil dan diberkati ( II Tawarikh 26:5).
• Tetapi sayang sekali, setelah dia diberkati dan namanya terkenal, dia menjadi tinggi hati (II Tawarikh 26:16).
• Dan akibat kesombongannya dia harus membayar mahal: dibuang jauh dari rumah Tuhan (II Tawarikh 26:21).
3. Hati yang Penuh Kasih
“…Ia membaharui engkau dalam kasihNya…”
Zefanya 3:17b
Kita akan berpindah dari satu kemenangan kepada kemenangan yang lain, jika kita memberi diri untuk dibaharui di dalam kasih Allah.
Tanda pertama jika kita penuh dengan kasih Tuhan, maka kita akan:
• suka bertemu dengan DIA. Orang yang sedang jatuh cinta atau lagi kasmaran, dia akan selalu ingin bertemu dengan orang yang dicintai. Demikian juga jika Saudara mengasihi Tuhan, maka Saudara akan selalu ingin bertemu dengan Tuhan, baik melalui doa maupun ibadah.
• selalu ingin menceritakan kebaikan Tuhan kepada orang lain. Sama seperti seorang gadis tidak tahan untuk tidak menceritakan kebaikan atau kegantengan kekasihnya kepada teman-temannya, demikian pula jika seseorang itu sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, pasti dia tidak akan tahan untuk tidak menceritakan kebaikan Tuhan kepada orang lain.
• Untuk itu periksalah, bagaimana kasih Saudara kepada Tuhan.
Saudara akan menang terhadap orang-orang yang membenci Saudara apabila Saudara hidup di dalam kasih Tuhan. Saudara akan menang melawan emosi, apabila Saudara hidup di dalam kasih Tuhan. Yakinlah! Amin.
Jumat, 27 Juni 2008
Karakter Seorang Pemenang
Posted by
SB. Susanto
at
07:04
0
comments
Labels: Khotbah Gembala
Sabtu, 21 Juni 2008
Kesetiaan Seekor Anjing

Di jaman sekarang ini semakin sulit menemukan orang yang setia. Banyak orang yang sudah kehilangan kesetiaan. Suami tidak setia terhadap isterinya. Karyawan tidak setia terhadap perusahaan di mana dia bekerja dsb. Jika Anda orang yang tidak setia, Anda perlu membaca artikel ini yang menceritakan kesetiaan HACHIKO, seekor anjing yang setia kepada tuannya sampai ajal menjemput.
Di Kota Shibuya, Jepang, tepatnya di alun-alun sebelah timur Stasiun Kereta Api Shibuya, terdapat patung yang sangat termasyur. Bukan patung pahlawan ataupun patung selamat datang, melainkan patung seekor anjing. Dibuat oleh Ando Takeshi pada tahun 1935 untuk mengenang kesetiaan seekor anjing kepada tuannya. Seorang Profesor setengah tua tinggal sendirian di Kota Shibuya. Namanya Profesor Hidesamuro Ueno. Dia hanya ditemani seekor anjing kesayangannya, Hachiko. Begitu akrab hubungan anjing dan tuannya itu sehingga kemanapun pergi Hachiko selalu mengantar. Profesor itu setiap hari berangkat mengajar di universitas selalu menggunakan kereta api. Hachiko pun setiap hari setia menemani Profesor sampai stasiun. Di stasiun Shibuya ini Hachiko dengan setia menunggui tuannya pulang tanpa beranjak pergi sebelum sang profesor kembali. Dan ketika Profesor Ueno kembali dari mengajar dengan kereta api, dia selalu mendapati Hachiko sudah menunggu dengan setia di stasiun. Begitu setiap hari yang dilakukan Hachiko tanpa pernah bosan.
Musim dingin di Jepang tahun ini begitu parah. Semua tertutup salju. Udara yang dingin menusuk sampai ke tulang sumsum membuat warga kebanyakan enggan ke luar rumah dan lebih memilih tinggal dekat perapian yang hangat.
Pagi itu, seperti biasa sang Profesor berangkat mengajar ke kampus. Dia seorang profesor yang sangat setia pada profesinya. Udara yang sangat dingin tidak membuatnya malas untuk menempuh jarak yang jauh menuju kampus tempat ia mengajar. Usia yang semakin senja dan tubuh yang semakin rapuh juga tidak membuat dia beralasan untuk tetap tinggal di rumah. Begitu juga Hachiko, tumpukan salju yang tebal dimana-mana tidak menyurutkan kesetiaan menemani tuannya berangkat kerja. Dengan jaket tebal dan payung yang terbuka, Profesor Ueno berangkat ke stasun Shibuya bersama Hachiko.
Tempat mengajar Profesor Ueno sebenarnya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Tapi memang sudah menjadi kesukaan dan kebiasaan Profesor untuk naik kereta setiap berangkat maupun pulang dari universitas.
Kereta api datang tepat waktu. Bunyi gemuruh disertai terompet panjang seakan sedikit menghangatkan stasiun yang penuh dengan orang-orang yang sudah menunggu itu. Seorang awak kereta yang sudah hafal dengan Profesor Ueno segera berteriak akrab ketika kereta berhenti. Ya, hampir semua pegawai stasiun maupun pegawai kereta kenal dengan Profesor Ueno dan anjingnya yang setia itu, Hachiko. Karena memang sudah bertahun-tahun dia menjadi pelanggan setia kendaraan berbahan bakar batu bara itu.
Setelah mengelus dengan kasih sayang kepada anjingnya layaknya dua orang sahabat karib, Profesor naik ke gerbong yang biasa ia tumpangi. Hachiko memandangi dari tepian balkon ke arah menghilangnya profesor dalam kereta, seakan dia ingin mengucapkan,” saya akan menunggu tuan kembali.”
“ Anjing manis, jangan pergi ke mana-mana ya, jangan pernah pergi sebelum tuan kamu ini pulang!” teriak pegawai kereta setengah berkelakar.
Seakan mengerti ucapan itu, Hachiko menyambut dengan suara agak keras,”guukh!”
Tidak berapa lama petugas balkon meniup peluit panjang, pertanda kereta segera berangkat. Hachiko pun tahu arti tiupan peluit panjang itu. Makanya dia seakan-akan bersiap melepas kepergian profesor tuannya dengan gonggongan ringan. Dan didahului semburan asap yang tebal, kereta pun berangkat. Getaran yang agak keras membuat salju-salju yang menempel di dedaunan sekitar stasiun sedikit berjatuhan.
Di kampus, Profesor Ueno selain jadwal mengajar, dia juga ada tugas menyelesaikan penelitian di laboratorium. Karena itu begitu selesai mengajar di kelas, dia segera siap-siap memasuki lab untuk penelitianya. Udara yang sangat dingin di luar menerpa Profesor yang kebetulah lewat koridor kampus.
Tiba-tiba ia merasakan sesak sekali di dadanya. Seorang staf pengajar yang lain yang melihat Profesor Ueno limbung segera memapahnya ke klinik kampus. Berawal dari hal yang sederhana itu, tiba-tiba kampus jadi heboh karena Profesor Ueno pingsan. Dokter yang memeriksanya menyatakan Profesor Ueno menderita penyakit jantung, dan siang itu kambuh. Mereka berusaha menolong dan menyadarkan kembali Profesor. Namun tampaknya usaha mereka sia-sia. Profesor Ueno meninggal dunia.
Segera kerabat Profesor dihubungi. Mereka datang ke kampus dan memutuskan membawa jenazah profesor ke kampung halaman mereka, bukan kembali ke rumah Profesor di Shibuya.
Menjelang malam udara semakin dingin di stasiun Shibuya. Tapi Hachiko tetap bergeming dengan menahan udara dingin dengan perasaan gelisah. Seharusnya Profesor Ueno sudah kembali, pikirnya. Sambil mondar-mandir di sekitar balkon Hachiko mencoba mengusir kegelisahannya. Beberapa orang yang ada di stasiun merasa iba dengan kesetiaan anjing itu. Ada yang mendekat dan mencoba menghiburnya, namun tetap saja tidak bisa menghilangkan kegelisahannya.
Malam pun datang. Stasiun semakin sepi. Hachiko masih menunggu di situ. Untuk menghangatkan badannya dia meringkuk di pojokan salah satu ruang tunggu. Sambil sesekali melompat menuju balkon setiap kali ada kereta datang, mengharap tuannya ada di antara para penumpang yang datang. Tapi selalu saja ia harus kecewa, karena Profesor Ueno tidak pernah datang. Bahkan hingga esoknya, dua hari kemudian, dan berhari-hari berikutnya dia tidak pernah datang. Namun Hachiko tetap menunggu dan menunggu di stasiun itu, mengharap tuannya kembali. Tubuhnya pun mulai menjadi kurus.
Para pegawai stasiun yang kasihan melihat Hachiko dan penasaran kenapa Profesor Ueno tidak pernah kembali mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Akhirnya didapat kabar bahwa Profesor Ueno telah meninggal dunia, bahkan telah dimakamkan oleh kerabatnya.
Mereka pun berusaha memberi tahu Hachiko bahwa tuannya tak akan pernah kembali lagi dan membujuk agar dia tidak perlu menunggu terus. Tetapi anjing itu seakan tidak percaya, atau tidak peduli. Dia tetap menunggu dan menunggu tuannya di stasiun itu, seakan dia yakin bahwa tuannya pasti akan kembali. Semakin hari tubuhnya semakin kurus kering karena jarang makan.
Akhirnya tersebarlah berita tentang seekor anjing yang setia terus menunggu tuannya walaupun tuannya sudah meninggal. Warga pun banyak yang datang ingin melihatnya. Banyak yang terharu. Bahkan sebagian sempat menitikkan air matanya ketika melihat dengan mata kepala sendiri seekor anjing yang sedang meringkuk di dekat pintu masuk menunggu tuannya yang sebenarnya tidak pernah akan kembali. Mereka yang simpati itu ada yang memberi makanan, susu, bahkan selimut agar tidak kedinginan.
Suatu pagi, seorang petugas kebersihan stasiun tergopoh-gopoh melapor kepada pegawai keamanan. Sejenak kemudian suasana menjadi ramai. Pegawai itu menemukan tubuh seekor anjing yang sudah kaku meringkuk di pojokan ruang tunggu. Anjing itu sudah menjadi mayat. Hachiko sudah mati. Kesetiaannya kepada sang tuannya pun terbawa sampai mati.
Warga yang mendengar kematian Hachiko segera berduyun-duyun ke stasiun Shibuya. Mereka umumnya sudah tahu cerita tentang kesetiaan anjing itu. Mereka ingin menghormati untuk yang terakhir kalinya. Menghormati sebuah arti kesetiaan yang kadang justru langka terjadi pada manusia.
Mereka begitu terkesan dan terharu. Untuk mengenang kesetiaan anjing itu mereka kemudian membuat sebuah patung di dekat stasiun Shibuya. Sampai sekarang taman di sekitar patung itu sering dijadikan tempat untuk membuat janji bertemu. Karena masyarakat di sana berharap ada kesetiaan seperti yang sudah dicontohkan oleh Hachiku saat mereka harus menunggu maupun janji untuk datang. Akhirnya patung Hachiku pun dijadikan symbol kesetiaan. Kesetiaan yang tulus, yang terbawa sampai mati. (reposting - prap2008/sbs)
Posted by
SB. Susanto
at
11:16
1 comments
Labels: Artikel
Rabu, 18 Juni 2008
KEBANGUNAN ROHANI SEJATI
“ Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga.”
Matius 7:21
By:SB.Susanto
Kebangunan rohani yang sesungguhnya tidak dilihat dari berapa banyak kita menyebut nama Tuhan di dalam gedung gereja. Kebangunan rohani yang sebenarnya tidak terjadi di dalam gedung gereja seminggu sekali tetapi terjadi di dalam diri seseorang. Bukan satu minggu sekali tetapi setiap hari. Kebangunan rohani yang sejati tidak diukur dari banyaknya kegiatan di dalam gereja. Mengapa? Karena banyak orang kristen yang giat untuk Allah tetapi tidak dalam pengertian yang benar. Rasul Paulus berkata kepada orang-orang kristen di Roma :
"Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka giat untuk Allah, tetapi tidak dalam pengertian yang benar. Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah."
Roma 10:2-3
Banyak orang kristen seperti ayat di atas, giat untuk Allah tetapi tanpa pengertian dan tanpa pengenalan yang benar sehingga mereka mati-matian mempertahankan kebenaran dan aturan mereka sendiri. Akibatnya mereka tidak tunduk kepada kebenaran Allah. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda hanya tunduk kepada aturan manusia dan mengabaikan kebenaran Allah? Meskipun Anda giat untuk Tuhan tetapi kalau Anda tidak hidup dalam kebenaran Allah maka Anda tidak akan mengalami kebangunan rohani yang sejati dalam hidup Anda.
Anda mengalami revival atau tidak, bukan dilihat dari berapa banyak Anda bernubuat atau mengusir setan. Buktinya Matius 7:22 mengatakan, banyak yang bernubuat dan usir setan tetapi Tuhan tidak mengenal mereka. Kelihatannya seperti ada revival tetapi sesungguhnya itu revival yang palsu. Revival yang palsu ini dikerjakan oleh nabi-nabi palsu (Matius 7:15). Untuk melihat kebangunan rohani itu sejati atau palsu harus dilihat dari buahnya. Bukan buah karunia tetapi buah karakter. Apa saja yang bisa dijadikan ukuran dan tanda terjadinya kebangunan rohani ?
1. PERTOBATAN
Jawab Petrus kepada mereka: “ Bertobatlah…”
Revival yang terjadi pada jaman gereja mula-mula ditandai dengan adanya pertobatan (Kis 2:38). Ketika orang-orang bertanya kepada Petrus apa yang harus mereka lakukan, Petrus menjawab: Bertobatlah…!
Dasar dari kebangunan rohani yang sebenarnya adalah pertobatan. Tanpa pertobatan tidak akan ada revival. Itulah sebabnya berita pertama yang disampaikan Tuhan bukan soal karunia, Roh Kudus atau iman dan berkat, melainkan soal pertobatan.
KataNya: “ Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”
Markus 1:15
Kebangunan rohani tidak diukur dari berapa banyaknya orang yang hadir dalam setiap ibadah atau dalam KKR, tetapi diukur dari berapa banyaknya orang yang bertobat.
2. BAPTISAN AIR
…dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus untuk pengampunan dosamu…
Kis 2:38
Kebangunan rohani yang sesungguhnya akan ditandai dengan baptisan air. Seseorang yang bertobat akan bersedia untuk masuk dalam baptisan pengampunan dosa. Orang-orang yang bertobat pada jaman rasul Petrus itu juga memberi diri untuk dibaptis (Kis 2:41). Baptisan ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang telah dewasa. Sebab untuk melakukannya seseorang harus memenuhi setidaknya 3 syarat utama, yaitu: Pertama, percaya dengan segenap hati bahwa Yesus itu Tuhan dan menerima Dia sebagai Juruselamat. Kedua, bertobat dan meninggalkan manusia lama. Ketiga, memberi diri untuk dibaptis. Bukan karena dipaksa oleh orang lain. Ketiga syarat ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang dewasa. Bukan anak bayi. Karena bayi tidak bisa terima Yesus dan tidak bisa bertobat juga tidak bisa memberi diri.
Baptisan pengampunan dosa ini adalah baptisan untuk menyatu di dalam kematian Yesus. Menguburkan manusia lama (Roma 6:5). Jika kita menyatu dengan kematianNya maka kita juga akan menyatu dengan kebangkitanNya.
3. PERSEKUTUAN
…mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan…
Kis 2:42
Orang yang mengalami revival di dalam dirinya akan selalu ingin bersekutu/beribadah. Ada satu kerinduan yang besar untuk selalu beribadah. Bukan karena takut sama pendeta tetapi karena ada revival di dalam dirinya. Mereka bersekutu untuk belajar firman Tuhan dan berdoa, bukan untuk nggosip atau nyeritain kesalahan orang (Kis 2:42).
Anda perlu bertekun dalam pengajaran agar Anda menjadi dewasa. Tetapi ingat, Anda menjadi dewasa bukan karena apa yang Anda dengarkan melainkan karena apa yang Anda lakukan. Ketaatan Anda akan membuat Anda kuat dan dewasa di dalam Kristus.
4. MUJIZAT dan TANDA AJAIB
…rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda…
Kis 2:43
Tanda ke-4 dari revival adalah: Mujizat dan tanda ajaib. Salah satu pintu untuk terjadinya revival yaitu: mujizat dan tanda ajaib. Orang lumpuh berjalan, buta melihat, tuli mendengar bahkan orang yang mati, dibangkitkan. Tetapi itu bukan tanda utama. Mengapa? Ya, karena mujizat yang terbesar itu bukan orang mati dibangkitkan, melainkan kalau hidup seseorang itu diubahkan oleh Tuhan. Dulu pemabuk, sekarang pemazmur. Dulu pemaki, sekarang pemuji. Dulu penjudi sekarang pemberi.
5.YESUS DITINGGIKAN
…dengan tulus hati sambil memuji Allah…
Kis 2:47
Revival yang sejati akan ditandai dengan pujian dan penyembahan kepada Yesus. Dalam setiap kegiatan apapun, nama Yesus harus selalu ditinggikan. Revival yang sejati tidak meninggikan nama gereja atau nama pendeta. Juga tidak mengagung-agungkan gedung gereja yang megah. Juga bukan bangga dengan jumlah jemaat. Tetapi revival yang sejati akan meninggikan nama Yesus. Yesus sebagai pusat pengagungan, bukan organisasi! Justru jika kita meninggikan Yesus, maka Dia akan menarik banyak orang datang kepadaNya (Yohanes 12:32).
6. PERTUMBUHAN KUANTITAS
…dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan…
Kis 2:47b
Revival yang sejati tidak bisa dipisahkan dengan pertumbuhan. Ada revival berarti ada orang-orang yang diselamatkan. Itu artinya ada pertambahan bilangan orang yang percaya. Pertumbuhan kualitas harus diikuti dengan pertumbuhan secara kuantitas. Mengapa? Karena itu Amanat Agung. Jadikan semua bangsa muridKu (Matius28:19). Sebab itu setiap hari Anda harus bersaksi dan menjadi saksi. Bawa jiwa-jiwa datang kepada Tuhan supaya mereka diubahkan dan dipulihkan oleh Tuhan.
Amin.
Posted by
SB. Susanto
at
09:24
0
comments
Labels: Khotbah Gembala
AWAS SARS!!!

Bacaan : FILIPI 1:27-30
“ Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil, dengan tiada digentarkan sedikitpun oleh lawanmu.”
Filipi 1:27
By: Sugeng B. Susanto
Hidup kekristenan bukanlah suatu permainan melainkan suatu perjuangan meskipun kenyataannya masih banyak orang Kristen yang main-main. Main-main dengan dosa, main-main dalam ibadah dan pelayanan. Kita harus sadar bahwa kita hidup di jaman akhir. Kita sedang menghadapi peperangan yang terakhir.
Sadarlah saat ini ada satu kekuatan yang tidak nampak yang berusaha untuk menjatuhkan kita dan melepaskan kita dari kasih karunia Allah. Saat ini kita sedang berada di medan peperangan. Peperangan yang kita hadapi ini jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan peperangan yang sedang terjadi di Irak.
AWAS SARS!!!
Saat ini dunia sedang dihebohkan dengan munculnya penyakit pernafasan yang sangat membahayakan, yaitu SARS: Severe Acute Respiratory Syndrom. Penyakit ini sudah memakan banyak korban jiwa di beberapa negara. Tetapi ada SARS yang lain yang juga tidak kalah berbahayanya bahkan virus ini telah mematikan jutaan umat manusia di muka bumi.
S: Sakit Hati.
" Kasihanilah aku, ya TUHAN, sebab aku merasa sesak; karena sakit hati mengidaplah mataku, meranalah jiwa dan tubuhku."
Mazmur 31:10
Virus sakit hati ini menyebabkan seseorang sesak nafas bahkan mengalami kematian. Sakit hati akan mengganggu pernafasan roh Anda. Bahkan dapat mematikan kehidupan rohani Anda. Sebab itu jangan biarkan roh sakit hati menguasai diri Anda. Segera buang dan singkirkan dari dalam hati Anda.
A: Akar Pahit
"Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang."
Ibrani 12:15
Virus sakit hati, jika dibiarkan akan menjadi akar pahit. Akar pahit akan mendatangkan kekacauan serta mencemarkan banyak orang. Itu berarti akar pahit ini penyakit menular. Roh kepahitan ini sudah banyak memakan korban. Lihat saja berapa banyak pernikahan yang hancur karena roh kepahitan ini. Berapa banyak gereja yang pecah karena orang-orang di dalamnya penuh dengan akar pahit.
R: Ragi
"Ketika itu barulah mereka mengerti bahwa bukan maksud-Nya supaya mereka waspada terhadap ragi roti, melainkan terhadap ajaran orang Farisi dan Saduki."
Matius 16:12
Virus ketiga yang dapat menggerogoti kehidupan rohani seseorang bahkan dapat menghancurkan sebuah komunitas adalah ragi. Darimana datangnya virus ini? Jelas dari roh sakit hati dan akar pahit yang tidak dibereskan. Orang yang menyimpan sakit hati dan kepahitan biasanya akan menceritakan kepahitannya kepada orang lain sehingga banyak orang terkontaminasi atau tertular virus ini.
S: Sungutan
"Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut."
I Korintus 10:10
Virus ke-empat dari SARS adalah SUNGUTAN. Orang yang menyimpan sakit hati akan tumbuh akar pahit di dalam hatinya, kemudian dia akan menceritakan kepahitannya kepada banyak orang sehingga hidupnya akan penuh dengan sungutan. Ingat, sebagian besar bangsa Israel mati di padang gurun dan tidak bisa masuk ke Tanah Kanaan karena mereka bersungut-sungut.
Waspadalah, jangan Anda terjangkit Virus SARS!
Tetapi seperti yang sudah kita ketahui bahwa penyakit pernafasan yang telah memakan banyak korban jiwa ini sudah dinubuatkan oleh alkitab, yaitu: Ulangan 28:22, dan sebagai penangkalnya kita diminta melakukan firman Allah dalam Mazmur 91.
Apa yang harus kita lakukan?
Pertama, HATI kita harus melekat dengan Tuhan (Mazmur 91:14). Kita harus beribadah dan melayani Tuhan dengan segenap hati. Kalau memuji Tuhan jangan hanya dengan mulut tetapi harus dengan segenap hati. Kedua, kita harus mengenal Allah. Apa tanda bahwa seseorang itu mengenal Allah? I Yohanes 2:3 mencatat, orang yang mengenal Allah adalah orang yang menuruti perintah-perintah-Nya.
Di bawah ini ada tiga kunci untuk kita bisa menang dalam peperangan melawan roh-roh jahat. Menang melawan roh sakit hati dan akar pahit, menang melawan hawa nafsu dan kejahatan.
1. HIDUP SESUAI FIRMAN
… hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus.
Filipi 1:27
Senjata paling ampuh untuk melawan musuh bukanlah sebuah khotbah yang hebat atau kesaksian yang berapi-api, melainkan hidup yang sesuai dengan firman. Bukan siapa kita di balik mimbar yang menentukan kemenangan melainkan siapa kita di bawah mimbar. Kemenangan seorang hamba Tuhan tidak ditentukan dengan apa yang diucapkan di mimbar melainkan ditentukan dengan apa yang dilakukan di bawah mimbar. Kemenangan Anda tidak ditentukan dari kefasihan lidah Anda dalam bersaksi di mimbar, tetapi ditentukan dari ketaatan Anda di bawah mimbar. Bukan hanya bersaksi tetapi menjadi saksi. Bersaksi dengan karunia, menjadi saksi dengan karakter Allah yang ada di dalam hidup Anda.
“ Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh.”
I Petrus 2:15
Anda masih ingat apa yang dilakukan oleh Daniel untuk membungkam mulut singa? Dia hidup sesuai dengan Firman Tuhan. Tiga kali dalam sehari Daniel tetap memuji Tuhan. Pujian itulah yang kemudian membungkam mulut singa serta mulut lawan-lawan politiknya. Daniel bebas, sebaliknya pejabat-pejabat yang berusaha mencelakakan Daniel justru dimakan oleh singa. Hari itu singa-singa yang lapar itu pesta daging pejabat!
Kalau Anda seorang pejabat yang takut Tuhan, Anda akan aman meskipun dikelilingi oleh singa. Sebaliknya jika Anda seorang pejabat yang tidak takut Tuhan, maka Anda akan dicabik-cabik oleh singa.
“ Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam.”
Mazmur 8:3
Kekuatan apa yang ditaruh Tuhan di dalam mulut bayi-bayi? Matius 21:16 mencatat, di dalam mulut bayi-bayi Tuhan menyediakan puji-pujian. Puji-pujian itulah yang akan membungkam musuh.
Apa yang Anda lakukan ketika Anda difitnah dan dicaci maki? Apa yang Anda lakukan ketika Anda dibenci? Anda balas memaki dan balas membenci atau Anda tetap memuji Tuhan? Jika Anda tetap memuji dan menyembah Tuhan, maka Anda akan menjadi pemenang.
2. HIDUP DALAM KESATUAN
“… teguh berdiri dalam SATU ROH, SATU HATI dan berjuang untuk iman yang timbul dari berita Injil.”
Filipi 1:27
Paulus berbicara mengenai kesatuan kepada jemaat Filipi karena di sana ada dua perempuan yang tidak satu hati. Siapa mereka? Euodia & Sintikhe (Filipi 4:2-3). Mereka ini pejuang-pejuang Injil yang sedang berselisih paham. Iblis berusaha memecah-belah mereka. Itulah sebabnya Paulus mengingatkan mereka agar bersatu dan bersehati.
Saya sedang mempelajari sebuah buku yang ditulis oleh Peter Wagner yang berjudul The New Apostolic Churches – Gereja-gereja Rasuli yang Baru. Peter Wagner mengulas pertumbuhan gereja yang ada di Amerika, Afrika dan beberapa gereja di Asia. Hampir semua gereja yang bertumbuh itu mereka memiliki TIM Pelayanan yang bersatu. Satu VISI, satu HATI dan satu KASIH.
Efesus 4:11-16 mengatakan bahwa kita harus mencapai kesatuan iman dan kedewasaan penuh serta bertumbuh ke arah Kristus. Kita adalah Tubuh Kristus, tubuh itu disusun dan diikat menjadi SATU di dalam KASIH. Kita bersatu bukan karena tugas, bukan karena ada kesamaan pelayanan melainkan karena KASIH.
Kita dipanggil untuk MENGASIHI seperti Kristus telah mengasihi kita. Hidup kita harus berpadanan dengan panggilan itu (Efesus 4:1-2). KASIH akan mendamaikan & menyatukan kita dengan Allah dan juga menyatukan kita dengan sesama ( I Yohanes 4:7-11).
Kalau Saudara ingin belajar lebih jauh tentang kasih, silahkan Anda baca: I Kor 13:1-7. Anda bisa saja memiliki BANYAK KARUNIA tetapi jika Anda tidak memiliki kasih, semua itu tidak berguna.
3. SIAP MENDERITA
“… dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia…”
Filipi 1:29
Dalam peperangan terakhir ini Tuhan mengijinkan umat-Nya mengalami kesukaran dan penderitaan. Tetapi jangan takut, penderitaan itu merupakan KARUNIA. Di balik penderitaan itu Tuhan sudah menyediakan kemenangan dan kemuliaan. Apapun yang sedang Anda hadapi, pandanglah Salib Kristus agar Anda tidak menjadi lemah dan putus asa (Ibrani 12:4).
SAUL dan DAUD
Mengapa Daud mendapatkan kemuliaan yang besar sedangkan Saul tidak? Umat Israel berkata: Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud mengalahkan berlaksa-laksa. Daud lebih dimuliakan dari pada Saul, karena Daud berani menghadapi musuh yang besar. Sedangkan Saul tidak berani berhadapan dengan lawan yang besar. Dia ketakutan ketika berhadapan dengan Goliat (I Samuel 18:6-7).
Mau kemenangan yang besar?
Anda harus berhadapan dengan musuh yang besar!
Mau kemuliaan yang besar?
Anda harus masuk ke dalam penderitaan yang besar!
Akhirnya, maju terus bersama Tuhan, jika Anda hidup sesuai dengan Firman, penderitaan yang Anda alami akan mendatangkan kemuliaan yang besar. Dan juga jangan lupa, singkirkan virus SARS dari dalam hati Anda, jika tidak, ia akan menghancurkan dan mematikan hidup Anda. Amien.
Posted by
SB. Susanto
at
09:16
0
comments
Labels: Khotbah Gembala
Bangun Mezbah Anda!

Bacaan: I Raj 18:30-40
Lalu turunlah api TUHAN menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air dalam parit itu habis dijilatnya. Ketika seluruh rakyat melihat kejadian itu, sujudlah mereka serta berkata: “ TUHAN, Dialah Allah! TUHAN, Dialah Allah!”
I Raj 18:38-39
By: Sugeng B. Susanto
Apa yang dimaksud dengan Mezbah? Mezbah adalah tempat untuk imam-imam mempersembahkan korban kepada Tuhan. MEZBAH berbicara mengenai PENYEMBAHAN. Mezbah berbicara mengenai
KEINTIMAN dengan BAPA.
Orang-orang yang diberkati adalah orang-orang yang memiliki hubungan yang intim dengan TUHAN. Ada tiga nama yang sering disebut oleh Tuhan pada saat Dia mengingatkan janji-janji-Nya, yaitu Abraham, Ishak dan Yakub.
“ Kamu akan Kubawa ke negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub; tanah itu Kuberikan kepadamu menjadi milikmu sendiri. Akulah TUHAN."
Keluaran 6:8
Abraham sangat diberkati oleh Tuhan. Bahkan melalui mereka janji Allah diturunkan kepada setiap orang percaya. Abraham, Ishak dan Yakub sangat diberkati oleh Tuhan karena mereka adalah orang-orang yang memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan. Mereka tidak pernah lupa untuk membangun mezbah bagi Tuhan. Abraham berada di mana saja, ia selalu membangun mezbah (Kejadian 12:7-8). Begitu juga dengan anaknya Abraham, yaitu Ishak dalam Kejadian 26:25. Juga Yakub dalam Kejadian 35:2-3.
Kita akan melihat mezbah yang dibangun oleh Elia pada waktu bangsa Israel tidak lagi beribadah kepada Tuhan. Ela membangun mezbah karena dia ingin membuktikan kepada umat Israel bahwa penyembahan mereka salah. Mereka sudah meninggalkan Tuhan dan beralih menyembah patung Baal.
Lantas apa yang terjadi pada saat nabi ELIA membangun MEZBAH?
Pertarungan Di Atas Bukit Karmel
Waktu itu Israel sedang mengalami bala kelaparan yang luar biasa. Itu terjadi karena raja Ahab menyembah Baal. Sehingga Tuhan mendatangkan kekeringan atas mereka seperti yang dikatakan oleh Elia dalam I Raja-raja 17:1,7. Elia tidak bisa berdiam diri melihat kesesatan yang terjadi di tengah-tengah bangsanya. Dia segera bertindak bersama dengan Tuhan!
Lalu kemudian Elia menantang 450 nabi Baal dan 400 nabi Asyera untuk membuktikan siapa yang hidup, Baal atau Allah. Akhirnya setelah Elia mendemonstrasikan kuasa Allah melalui mezbah yang dibangun di atas bukit Karmel, seluruh umat Israel berbalik kepada Tuhan, bertobat dengan meninggalkan Baal
APA yang dilakukan ELIA dengan MEZBAH itu?
1. MEMPERBAIKI MEZBAH TUHAN
I Raj 18:30
Kata Elia kepada seluruh rakyat itu: "Datanglah dekat kepadaku!" Maka mendekatlah seluruh rakyat itu kepadanya. Lalu ia memperbaiki mezbah TUHAN yang telah diruntuhkan itu."
Bagaimana Mezbah Anda? Masih berdiri atau sudah runtuh? Mari kita perbaiki hubungan kita dengan Tuhan. Mari kita bangun kembali Rumah Tuhan, bangun Takhta Allah dalam hidup kita, dalam keluarga kita agar kekeringan tidak melanda hidup kita.
Ingatkah Anda apa yang terjadi pada jaman Hagai? Alkitab menunjukkan dalam Hagai 1:9-11 bahwa segala usaha mereka kering, tidak ada hasil karena mereka membiarkan Rumah Tuhan runtuh. Apa yang membuat hubungan kita dengan Tuhan terputus? Mungkin KESIBUKAN atau KEMALASAN atau bahkan mungkin KEKECEWAAN?
2. KUMPULKAN DUABELAS BATU
I Raj 18:31
Kemudian Elia mengambil dua belas batu, menurut jumlah suku keturunan Yakub. -- Kepada Yakub ini telah datang firman TUHAN: "Engkau akan bernama Israel." --
Keduabelas batu itu menggambarkan kehidupan orang percaya yang harus disatukan untuk membuat mezbah. Anda tidak bisa membangun Mezbah keluarga, gereja, kota & bangsa hanya dengan satu batu. Tetapi Anda harus menyusunnya dari banyak batu.
Akan terjadi GESEKAN pada waktu kita menyusun batu-batu itu menjadi mezbah. Jika setiap kali terjadi gesekan Anda menolak atau Anda lari, maka mezbah itu tidak akan pernah berdiri.
Kualitas pelayanan seseorang akan kelihatan tatkala terjadi gesekan sesama pelayan.
3. MEMOTONG LEMBU
I Raj 18:33
"Ia menyusun kayu api, memotong lembu itu dan menaruh potongan-potongannya di atas kayu api itu."
Untuk apa lembu dipotong? Lembu itu dipotong sebagai korban karena mezbah tanpa KORBAN bukanlah suatu mezbah. Abraham, Ishak dan Yakub harus menyembelih binatang untuk menjadi korban pada saat membangun mezbah bagi Tuhan. Demikian pula dengan MUSA dalam Keluaran 10:24, dia tidak mau bangun mezbah tanpa korban
Apa saja yang perlu diperhatikan dalam mempersembahkan korban
1. Dalam Keluaran 29:13, yang perlu untuk dibakar dalam mezbah adalah “umbai hati” atau bagian hati yang paling baik.
2. Dalam Keluaran 29:14, kulit & kotorannya dibakar di luar perkemahan, jangan bawa ke mezbah. Jangan bawa hal-hal yang kotor ke atas mezbah.
Korban apa yang harus kita berikan kepada Tuhan pada saat membangun mezbah? Jiwa yang hancur, hati yang patah dan remuk!!! (Mazmur 51:19)
Itulah sebabnya TUHAN akan membiarkan hati Anda diremukkan agar Anda bisa memberikan korban kepada Tuhan.
4. JANGAN BAWA API ASING
I Raj 18:38
"Lalu turunlah api TUHAN menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit itu habis dijilatnya."
Anda ingat Nadab dan Abihu mati di depan mezbah karena membawa api asing ke atas mezbah?
Imamat 10:1-2
"Kemudian anak-anak Harun, Nadab dan Abihu, masing-masing mengambil perbaraannya, membubuh api ke dalamnya serta menaruh ukupan di atas api itu. Dengan demikian mereka mempersembahkan ke hadapan TUHAN api yang asing yang tidak diperintahkan-Nya kepada mereka. Maka keluarlah api dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan keduanya, sehingga mati di hadapan TUHAN."
Menyedihkan sekali mati di depan mezbah!!!
Banyak orang Kristen masih membangun mezbah, setiap hari mungkin bisa lima sampai enam jam di ruang doa. Mungkin lebih banyak dari pendetanya, tetapi mereka tidak mendapatkan kehidupan. Bahkan banyak yang mati di ruang doa. Mengapa? Karena api yang dibawa ke atas mezbah bukan api dari Tuhan melainkan api asing. Api asing itu bisa berupa : api amarah, api cemburu, api kesombongan dll.
Api apa yang Anda bawa ke atas mezbah??? Biarkan api dari Tuhan yang membakar korban di atas mezbah yang Anda bangun.
Amin.
Posted by
SB. Susanto
at
08:59
0
comments
Labels: Khotbah Gembala
Tongkat Kerajaan

Kejadian 49:10
“Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa."
By: Sugeng B. Susanto
Tongkat kerajaan Yehuda merupakan lambang atau nubuatan mengenai tongkat yang dipakai oleh Tuhan Yesus untuk membangun kerajaanNya dimuka bumi. Tongkat merupakan bagian penting
dari kehidupan dari orang-orang jaman dulu. Tongkat menjadi identitas bagi sebagian orang pada waktu itu. Biasanya tongkat orang-orang pada jaman dulu selalu diukir dengan nama pemiliknya. Bahkan suatu waktu, untuk meneguhkan kepemimpinan Harun, duabelas suku harus membawa tongkat yang diukir dengan nama mereka ke hadapan Tuhan (Bilangan 17:1-9).
Mari melangkah disepanjang tahuun ini dengan tongkat kerajaan. Tongkat ini penting bagi perjalanan hidup kita ditengah dunia yang gelap ini. Sebagaimana orang buta tidak bisa lepas dari tongkat, demikian pula dengan hidup kita. Kita membutuhkan tongkat kerajaan yang akan menuntun kita masuk ke dalam rencana Allah.
Mari kita periksa apa yang dimaksud dengan tongkat kerajaan?
1. Tongkat Kebenaran
Mazmur 45:7
” Takhtamu kepunyaan Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaanmu adalah tongkat kebenaran.”
Tongkat kebenaran adalah firman Allah karena kbenaran itu firman Allah. Tanpa firman Allah kita akan tersesat. Agar sepanjang tahun ini kita tidak salah jalan, maka firman Tuhan harus menjadi penuntun hidup kita. Firman Allah akan mengarahkan langkah kaki kita kepada tujuan hidup yang Tuhan telah tetapkan.
Itulah sebabnya setiap hari kita harus bergantung kepada tongkat kebenaran. Sesungguhnya kita tidak bisa dipisahkan dari tongkat kebenaran seperti orang buta yang tidak bisa sampai kepada tujuan kalau tidak ada tongkat ditangannya.
Firman Allah akan mendatangkan iman dalam hidup kita. Tantangan-tantangan ditahun ini harus kita hadapi dengan iman, jangan takut dengan tantangan, karena tantangan merupakan alat yang Tuhan pakai untuk meningkatkan kualitas iman kita. Tantangan melatih iman kita.
2. Tongkat Kasih Karunia
Ester 5:2
” Ketika raja melihat Ester, sang ratu, berdiri di pelataran, berkenanlah raja kepadanya, sehingga raja mengulurkan tongkat emas yang di tangannya ke arah Ester, lalu mendekatlah Ester dan menyentuh ujung tongkat itu.”
Tongkat kerajaan yang berikut adalah tongkat kasih karunia. Ester memiliki pengalaman dengan tongkat kasih karunia ini, yaitu ketika bangsa Yahudi hendak dimusnahkan oleh Haman. Merdekhai memberikan nasehat kepada Ester agar dia menghadap raja dan meminta belas kasihan raja agar benagsanya selamat dari maksud jahat Haman. Untuk mengikuti saran Mordekahi, Ester harus berani bayar harga. Jaman itu ada satu aturan yang diterapkan oleh kerajaan, yaitu jika seseorang menghadap raja tanpa dipanggil, maka dua hal yang akan terjadi. Pertama, apabila raja tidak berkenan, maka orang itu akan mati. Sebaliknya jika raja berkenan, maka raja akan mengulurkan tongkatnya. Itu adalah tongkat kemurahan.
Pada waktu Ester menghadap, raja senang dan meberikan kemurahan kepada Ester dengan bukti dia mengulurkan tongkat emasnya kepada Ester. Kasih karunia diberikan kepada Ester bahkan raja akan memberikan apapun yang diminta oleh Ester. Luar biasa, inilah kasih karunia.
Siap Kehilangan Nyawa.
Kasih karunia itu didapat Ester karena dia rela bayar harga. Dia siap untuk mati seandainya raja tidak berkenan. Ester tidak akan mendapatkan kemurahan itu apabila dia takut kehilangan nyawanya.
Ester 4:16b
” Aku serta dayang-dayangku pun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati."
Saudara, kalau kita bersedia bayar harga, maka Tuhan akan memberikan tongkat kasih karunia kepada kita. Kalau kita tidak bersedia mati dari ego, mati dari keakuan dan mati dari kedagingan, maka kita tidak akan memperoleh tongkat kasih karunia.
3. Tongkat Otoritas
Kejadian 32:10
” sekali-kali aku tidak layak untuk menerima segala kasih dan kesetiaan yang Engkau tunjukkan kepada hamba-Mu ini, sebab aku membawa hanya tongkatku ini waktu aku menyeberangi sungai Yordan ini, tetapi sekarang telah menjadi dua pasukan.
Tongkat Yakub
Yakub memiliki tongkat otoritas atau kuasa. Pada waktu Yakub meninggalkan kampung halamannya, dia tidak bawa apa-apa. Hanya tongkat yang dia bawa. Tetapi itu bukan sembarang tongkat. Itu adalah tongkat kuasa. Sehingga dia bisa memiliki dua pasukan.
Tongkat Musa
Demikian pula dengan Musa. Hanya berbekal tongkat, dia berhasil membawa bangsa Israel keluar dari belenggu Mesir.
Keluaran 4:17
” Dan bawalah tongkat ini di tanganmu, yang harus kaupakai untuk membuat tanda-tanda mujizat."
Musa membawa tongkat otoritas ditangannya. Dengan tongkat itu dia melepaskan bangsa Israel dari pernudakan Mesir. Ketika Musa mengangkat tongkat, Mesir menerima hukuman (baca: tulah). Tetapi bangsa Israel menerima kelepasan. Ketika Musa mengangkat tongkatnya, laut Teberau terbelah sehingga terbuka jalan keluar bagi orang Israel yang sedang dikejar-kejar oleh pasukan Mesir. Orang Israel selamat tetapi pasukan Mesir binasa.
Tongkat kuasa bagi orang benar merupakan pertolongan dan kelepasan tetapi bagi orang berdosa merupakan hukuman.
4. Tongkat Pendisiplinan
Amsal 13:24
” Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.”
Tongkat kerajaan yang ke-empat yaitu tongkat pendisiplinan. Seperti seorang ayah menghajar anaknya dengan tongkat demikian pula dengan Bapa kita. Kalau anak berbuat kesalahan pasti akan kita tegur bahkan mungkin akan dihajar dengan tongkat karena kita mengasihi anak kita. Demikian pula dengan Tuhan. Karena kasih-Nya, Dia tegur dan hajar kita mungkin dengan penyakit, dengan kebangkrutan dalam usaha dan lain sebagainya agar kita sadar dan bertobat dari kesalahan kita.
5. Tongkat Pengukur
Wahyu 11:1
” Kemudian diberikanlah kepadaku sebatang buluh, seperti tongkat pengukur rupanya, dengan kata-kata yang berikut: "Bangunlah dan ukurlah Bait Suci Allah dan mezbah dan mereka yang beribadah di dalamnya
Tongkat kerajaan yang ke-lima adalah tongkat pengukur. Tuhan pakai untuk mengukur kedewasan kita. Tuhan ukur apakah kita bisa menjadi mempelai atau tidak. Sebab itu periksalah hidup anda!.
Amin
Posted by
SB. Susanto
at
08:49
0
comments
Labels: Khotbah Gembala
SETERU SALIB

Bacaan : Filipi 3:17-21
“ Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib. Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.”
Filipi 3:18-19
Dalam ayat di atas kita menemukan Paulus sedang menangis. Mengapa Paulus menangis ? Apa dan siapa yang Paulus tangisi ? Paulus bukan menangisi dirinya sendiri karena kesulitan yang dia hadapi. Paulus juga tidak menangis karena sikap orang-orang kristen di Roma yang menentang pelayanannya. Airmata Paulus bukan untuk dirinya sendiri, bukan untuk masalahnya sendiri tetapi untuk orang-orang kristen yang hidup sebagai SETERU SALIB Kristus !
Dalam bacaan di atas, Paulus sedang menasehati jemaat Filipi supaya mereka meneladani cara hidupnya. Bagaimana cara hidup Paulus ?
Paulus tidak hidup untuk dirinya sendiri, melainkan dia hidup untuk Kristus dan untuk bekerja memberi buah (Filipi 1:21-23). Kehidupan Paulus tidak bertentangan dengan salib Kristus bahkan Kehidupan Paulus ada tanda dari salib Kristus.
Pada hari-hari terakhir ini banyak orang yang hidup sebagai seteru salib. Siapa sajakah mereka ? Untuk mengetahui siapa yang hidup sebagai seteru salib, kita harus mengetahui apa arti dari salib. Salib merupakan lambang pengorbanan, penderitaan dan kasih Allah. Di atas kayu salib Tuhan Yesus berkorban bukan untuk diriNya sendiri melainkan untuk kepentingan kita. Dia menderita bukan karena kesalahan dan dosaNya tetapi karena kesalahan dan dosa kita. Di atas kayu salib, DIA membuktikan kasihNya kepada kita.
Menjadi seteru salib berarti kebalikan dari lambang salib. Kapan kita menjadi seteru salib ?
1. SAAT MEMENTINGKAN DIRI SENDIRI
“…dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” Filipi 2:4
Pada waktu Anda mementingkan kebutuhan orang lain, pada waktu itu Anda menjadi SAHABAT SALIB. Sebaliknya, pada saat Anda tidak memperhatikan kepentingan orang lain, pada saat itu Anda menjadi SETERU SALIB. Ingat, Yesus berkorban untuk kepentingan kita. Sudahkah Anda berkorban untuk kebutuhan dan kepentingan orang lain yang membutuhkan ? Banyak orang yang membutuhkan keselamatan, maukah Anda memperhatikan mereka ? Apakah Anda lebih mementingkan jabatan dan kedudukan daripada keselamatan jiwa-jiwa seperti orang-orang Lewi dan para imam dalam injil Lukas 10:31-32 ? Ataukah Anda seperti orang Samaria yang hatinya penuh belas kasihan itu ?
“ Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya…” Lukas 10:31-34a
Orang Lewi dan imam dalam ayat di atas hidup sebagai seteru salib, karena hanya mengutamakan kepentingan sendiri dan tidak peduli terhadap penderitaan orang lain. Tetapi orang Samaria itu hidup sebagai sahabat salib, karena mau berkorban untuk kepentingan orang yang membutuhkan. Bagaimana dengan Anda ???
2. SAAT MENOLAK PENDERITAAN
“ Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejakNya.” I Petrus 2:21
Salib merupakan lambang penderitaan. Jika Anda menolak untuk masuk dalam penderitaan, itu berarti Anda sedang menjadi seteru salib Kristus. Ketika Anda melarikan diri dari hadapan api ujian dan penderitaan, itu berarti Anda sedang menempatkan diri Anda sebagai seteru salib Kristus. Ingat, Anda bukan hanya dipanggil untuk percaya kepada Yesus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia. Jika hari ini Anda sedang berada di medan penderitaan, bersyukurlah kepada TUHAN, karena Anda menjadi salah satu sahabat salib Kristus.
Seorang seteru salib …
pada waktu dicaci maki akan balas mencaci maki
pada waktu diludahi akan balas meludahi
pada waktu dipukul akan balas memukul
Sebaliknya seorang sahabat salib……
ketika dicaci maki akan balas memberkati
ketika diludahi akan balas mengasihi
ketika dipukuli akan balas mengampuni
Untuk mengetahui dan membuktikan apakah Anda seorang sahabat salib atau seorang seteru salib, TUHAN akan mengijinkan Anda untuk melewati medan penderitaan. Di sana akan diuji dan dibuktikan siapa sebetulnya diri Anda. Siapapun Anda, mungkin Anda seorang yang saleh, jujur dan hidup di dalam kebenaran seperti Ayub, tetapi pada waktu-waktu tertentu Allah akan membawa Anda masuk ke padang gurun kesusahan dan penderitaan untuk membuktikan Anda seorang sahabat salib atau bukan.
3. SAAT HIDUP DALAM KEBENCIAN
“ Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang.” I Yohanes 2:9
Yang ketiga, salib merupakan lambang kasih Allah bagi umatNya. Itulah sebabnya jika ingin menjadi sahabat salib kita harus hidup di dalam kasih. Tetapi apabila kita hidup di dalam kebencian itu berarti kita hidup sebagai seteru salib.
Apabila saat ini Anda membenci mertua Anda, menantu Anda, teman Anda atau tetangga Anda, bertobatlah karena Anda berada di dalam kegelapan. Jika sampai hari ini, karena perlakuan orang tua atau keluarga Anda yang tidak adil, Anda hidup dalam kebencian terhadap mereka, ketahuilah, Anda sedang menjadi seteru salib Kristus. Untuk itu, setelah Anda selesai membaca tulisan ini, berlututlah di hadapan Allah. Mintalah pengampunan kepadaNya karena Anda telah hidup di dalam kebencian serta mintalah RohNya yang Ajaib untuk mencabut roh kebencian di dalam diri Anda.
Roh kebencian merupakan salah satu roh orang kuat yang akan menghambat pertumbuhan rohani seseorang. Mengapa ? Karena kebencian bertentangan dengan sifat dasar Allah. Allah itu kasih. Dan Dia itu sumber kasih karunia. Itulah sebabnya apabila seseorang hidup di dalam kebencian dan kepahitan, orang itu akan jauh dari kasih karunia Allah. Bagaimana mungkin kita bisa bertumbuh di dalam Kristus jika tanpa kasih karunia Allah ?
Tunggu apalagi, inilah saatnya kita menjadi sahabat salib, dengan cara hidup di dalam kasih, memperhatikan kepentingan orang lain dan siap untuk melewati medan penderitaan!!!
Amin.
Posted by
SB. Susanto
at
00:35
0
comments
Labels: Khotbah Gembala
Nama Yahweh: Harus Dipertahankan atau Boleh Diterjemahkan Dalam Bahasa Lain
Sejak Kitab Suci Perjanjian Baru ditulis oleh rasul-rasul Kristus, tetagramaton (keempat huruf suci Yhwh, Yahweh) diterjemahkan dalam bahasa Yunani Kyrios (Tuhan). Cara ini mengikuti kebiasaan Yahudi, yang juga diikuti oleh Yesus dan rasul-rasulnya, yang biasanya melafalkan Yahweh dengan Adonay (Tuhan) atau ha Shem (Nama segala nama). United Bible Societies (UBS) dan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) juga mengikuti kebiasaan ini, yang dibenarkan dan diikuti oleh orang Yahudi modern sekarang, untuk mener-jemahkan Yahwe dengan The Lord (dengan huruf besar semua). Yang pertama kali menggugat tradisi penerjemah-kan nama Allah ini adalah kelompok sempalan yang menamakan diri Yehovah’s Witnesses (Saksi-saksi Yehuwa).
Kelompok ini, dengan bangga telah mengembalikan Yahwe dalam Perjanjian Baru, meskipun teks asli dari rasul-rasul sendiri tidak memper-tahankannya. Timbul pertanyaan: Bolehkah "nama diri" (the proper name) diterjemahkan? Ada "kelompok sempalan" akhir-akhir ini yang berpendapat, menerjemahkan Nama Yhwh dalam bahasa-bahasa lain berarti menghujat Nama-Nya. Tetapi mengapa Yesus dan Rasul-rasul-Nya tidak memperta-hankan Nama tersebut? Semua pertanyaan ini hanya bisa dijawab apabila kita memahami apakah makna "nama" dalam teologi dan kebudayaan Yahudi, yang melatarbelakangi kehidupan Yesus yang "lahir dari seorang perempuan yang takluk kepada hukum Taurat" (Galatia 4:4), dan diikuti oleh murid-murid Yesus serta Gereja-Nya sampai hari ini.
Nama Yahweh (TUHAN): Asal-usul dan Makna Teologis
Nama Yahweh untuk pertama kalinya dinyatakan kepada Nabi Musa (Keluaran 6:1). Allah menyatakan diri kepada Nabi Musa dalam nyala api yang keluar dari se-mak duri, dan ketika Allah mengutusnya menghadap kepada Firaun untuk membawa umat Israel keluar dari Mesir, Musa bertanya: "Ba-gaimana tentang Nama-Nya? (Ibrani: Mah symo). Apakah yang harus kujawab kepada mereka?" (Keluaran 3:13).
Patut dicatat pula, cara biasa untuk menanyakan nama seseorang dalam bahasa Ibrani memakai kata ganti Mi, "Siapakah" (bandingkan dengan kata Arab, Man). Tetapi di sini dalam ayat ini dipakai "Bagaimana (mah) tentang Nama-Nya?". Mah symo, sejajar dengan bahasa Arab: Ma smuhu, menuntut suatu jawaban yang lebih jauh, yaitu memberikan arti ("apa dan bagaimana") atau hakikat dari nama itu. Bukan sekedar menunjukkan nama, melainkan lebih dari itu makna yang menunjuk kepada "Kuasa di balik Dia yang di-Nama-kan".
Jadi, kita tidak bisa memahaminya seperti nama-nama makhluk pada umumnya: Suradi, Yakub, Hendarto, dan lain-lain. Pertanyaan Nabi Musa ini lalu dijawab Allah dalam bahasa Ibrani: Ehyeh asyer ehyeh, -- Aku adalah Aku (Keluaran 3:14). Dengan firman itu Allah menyatakan siapakah Diri-Nya. Secara gramatikal, apabila Allah sendiri yang mengucapkan Nama-Nya, maka kita menjumpai bentuk ehyeh (Aku Ada), sedangkan apabila umat Allah yang mengucapkan tentu saja memakai kata ganti orang ketiga Yahweh (Dia Ada).
Bagaimana pula secara gramatikal akhirnya kita menemukan bentuk Yahweh? Menurut sebuah tafsir dalam bahasa Ibrani yang cukup representatif (karena berasal dari kalangan rabbi-rabbi Yahudi sendiri), memang bentuk yahweh tersebut berkaitan erat dengan ke-"Maha hadir"-an Ilahi, baik dahulu, kini dan yang akan datang. Keber-Ada-an Allah apabila dikaitkan dengan ketiga aspek waktu tersebut, dalam bahasa Ibrani adalah: hayah, "Ia telah Ada" (He was), howeh, "Ia Ada" (He is), dan yihyeh, "Ia akan Ada" (He will be). Maksudnya di sini, Allah itu Mahakekal, tidak terikat oleh aspek waktu, dan hal itu dibuktikan dengan kekuasaan-Nya yang selalu dinamis.
Dari deksripsi di atas, jelas bahwa Perjanjian Baru lebih mengacu kepada makna teologis di balik Nama itu, yaitu kuasa-Nya yang hidup dan bukan mempertahankan secara harfiah huruf-huruf mati tersebut. Terjemahan Nama Yahweh ini, antara lain dapat kita baca dalam Wahyu Yohanes:
"Aku adalah Alfa dan Omega, yang ada yang yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa" (Wahyu 1:8).
Perhatikanlah, ungkapan yang dicetak miring (kursif). Dalam bahasa Yunani: ho on kai ho en kai ho erksomenos, ho Pantakrator. Frase ini merupakan terjemahan dari sebuah doa (Siddur) Yahudi dari zaman pra-Kristen hingga sekarang, yaitu doa Adon ’olam yang sangat terkenal, yang memuat keterangan dari Nama Yahweh yang pantang diucapkan itu: We hu hayah we hu howeh we hu yihyeh le tif’arah (Ia yang sudah ada, yang ada, dan yang akan ada, kekuasaan-Nya kekal sampai selama-lamanya).
"Nama" dan "Pribadi" dalam Alkitab
Dalam kebudayaan Yahudi yang melatarbelakangi Alkitab, "nama" selalu terkait erat dengan "pribadi". Dalam Kitab Suci, "nama" dapat diru-muskan dalam 3 dalil:
1. Nama adalah pribadi itu sendiri;
2. Nama adalah pribadi yang diungkapkan; dan
3. Nama adalah pribadi yang hadir secara aktif.
Apabila ketiga pengertian ini diterapkan untuk Allah, maka penjelasan sekaligus dalil-dalilnya sebagai berikut:
1. Nama menunjuk kepada Pribadi itu sendiri
Dalam Alkitab nama seseorang selalu diidentikkan dengan pribadi seseorang. Lenyapnya seseorang sering disebut "namanya hilang". Misalnya, doa Israel ketika mereka dikalahkan dalam sebuah peperangan:
"…mereka akan melenyapkan nama kami dari bumi ini, dan apakah yang Kau lakukan untuk memulihkan Nama-Mu yang besar itu?" (Yosua 7:9).
Dalam hal Allah digambarkan lebih dramatis lagi, sebab TUHAN iden-tik dengan "Sang Nama". Imamat 24:11 dalam teks bahasa asli:
Wayyiqov ben ha isyah ha yisrael et ha Syem…
(Anak perempuan Israel itu menghujat Sang Nama dengan mengutuk...)
Karena itu, Terjemahan Baru/TB (1974) LAI menerjemahkan: "Anak perempuan Israel itu menghujat Nama TUHAN dengan mengutuk…) Dari contoh ayat di atas, jelaslah bahwa Nama menunjuk kepada Pribadi yang di-"Nama"-kan. Karena itu, yang dipentingkan bukan penyebutan Nama Ilahi Yahwe dalam bahasa asli Ibrani, melainkan lebih menunjuk kepada Pribadi Allah itu sendiri. Allah yang Mahakekal, Mahaesa, Mahahidup dan menyata-kan Diri-Nya kepada manusia.
2. Nama adalah Pribadi yang Diungkapkan
Apabila Amsal 18:10 menyebut bahwa Nama TUHAN (syem Yahwe) adalah menara yang kuat, maksudnya tidak lain adalah Pribadi Allah yang hidup dengan kekuasaan Ilahi-Nya yang menjaga dan melindungi kita umat-Nya. "Nama" di sini menunjuk kepada apa yang diketahui tentang Pribadi-Nya.
Contoh yang lebih jelas, Yesaya 30:27 dalam bahasa Ibrani: Hinneh, syem Yahwe ba mimerhaq…" Secara harfiah terjemahannya: "Perhatikanlah, Nama TUHAN datang dari tempat-Nya yang jauh…" Mengapa dikatakan "Nama TUHAN datang", dan tidak cukup dikatakan saja "TUHAN datang"? Jawab-annya, Nama di sini untuk menekankan "pengungkapan Pribadi-Nya". Tepat sekali, LAI menerjemahkan: "TUHAN datang menyatakan Diri-Nya dari tempat yang jauh…" Di sini, syem (Nama) diterjemahkan "menyatakan Diri-Nya".
Jadi, sekali lagi bukan dalam makna mempertahankan secara harfiah penyebutan Ibrani Yahwe, se-bagaimana ditafsirkan Saksi-saksi Yehuwa, dan di-ikuti oleh kelompok "bid’ah baru" Kristen tertentu pada tahun-tahun terakhir ini di Indonesia.
3. Nama adalah Pribadi yang hadir secara aktif
Makna ketiga dari Nama adalah kehadiran aktif Pribadi itu dalam ke-penuhan sifat-Nya yang diungkapkan. Mazmur 76:1 menyebutkan: "…Nama-Nya masyhur di Israel", dibuktikan dengan perbuatan-perbuatan Allah yang dasyat yang dialami oleh umat Israel. Begitu pula, di Gunung Karmel Nabi Elia mengusulkan "peperangan" Nama Tuhan dengan nama ilah-ilah selain-Nya. "Nama" dalam hal ini menunjuk kepada Pribadi yang hadir, yang dibuktikan dengan menjawab doa orang yang menyeru Nama-Nya.
Kemudian biarlah kamu memanggil nama ilah-mu (be shem elohekhem) dan akupun akan memanggil Nama Tuhan (beshem yahwe), maka ilah yang menjawab dengan api, Dialah Allah" (we hayah ha-elohim asyer yaeneh be esh hu ha-elohim)" (1 Raja-raja 18: 24).
Demikianlah apabila teks Ibrani di atas secara harfiah diterjemahkan dalam bahasa Arab: "…wa al-ilah alladzi yujiibu binarin faa huwa Allah". Secara gramatikal, dalam konteks ayat tersebut, Allah adalah "al-Ilah alladzi yujiibu binarin" (Ilah yang menjawab dengan api itu). Maksudnya, Allah adalah Ilah (sembahan) yang Mahakuasa, dan Dia telah membuktikan kekuasaan-Nya sebagai Allah yang Hidup.
Kutipan ini juga membuktikan bahwa kata Allah memang berasal dari al-Ilah, dan bukan "nama diri" (the proper name). Nama Diri Allah adalah yahweh, seperti disebutkan dibuktikan dengan "peperangan nama" di gunung Karmel di mana Yahwe tampil sebagai pemenang, karena Ia adalah Allah yang men-jawab doa umat-Nya. Ia adalah Pribadi Ilahi yang benar-benar hadir secara aktif:
Ketika seluruh rakyat melihat kejadian itu, sujudlah mereka serta berkata: Tuhan, Dialah Allah! Tuhan, Dialah Allah (1 Raja-raja 18:39).
Dalam bahasa aslinya, seruan itu berbunyi: Yahweh, hu ha elohim! Yahweh, hu haelohim. Dalam terjemahan bahasa Arab: Ar Rabb, huwa Allah! Ar Rabb, huwa Allah (Tuhan, Dialah Allah! Tuhan, Dialah Allah).
Jadi, jelaslah bahwa dalam hal "Nama Diri" Yahweh, semua umat Kristen sepakat. Masalahnya, baik UBS maupun LAI hanya mengikuti tradisi lama yang juga diikuti oleh Yesus, murid-murid-Nya dan Gereja Tuhan sepanjang abad, bahwa sekalipun nama Yahweh tetap dipertahankan dalam teks bahasa asli Kitab Suci (Perjanjian Lama) tetapi tidak membaca nama ilahi itu. Karena itu, kita dapat menerjemahkan nama Yahwe itu dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang dicontohkan oleh para penerjemah Alkitab dalam bahasa Yu-nani (Septuaginta) yang kemudian diikuti oleh rasul-rasul yang menulis Per-janjian Baru.
Catatan Penutup
Dari beberapa traktat dan publikasi yang diterbitkan kelompok baru "yang lebih Yahudi ketimbang orang Yahudi" ini, jelas sekali bahwa mereka menafsirkan Kitab Suci sangat harfiah, ayat demi ayat, tanpa melihat konteks dan sejarah teks-teks Alkitab. Kesan lain yang juga saya tangkap, para penganut "madzab baru" ini biasanya sangat fanatik, dan dalam membahas tema ini mereka sudah mempunyai kesimpulan dulu.
Karena itu, segala pembahasan ilmiah, sebagaimana pernah saya lakukan dalam forum yang juga menghadirkan Romo Dr. Martin Harun dari Lembaga Biblika Indonesia, dari beberapa pembicara lain dari Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), selalu mentah. Mengapa? Sebab kalau mereka terpojok, mereka lalu lari mencari ayat-ayat lain, sementara pembahasan yang sudah mulai terfokus menjadi kabur kembali. Artikel ini saya tulis untuk menunjukkan sangat dangkalnya pemikiran mereka, pantas saja tuntutan mereka tidak pernah digubris oleh LAI, yang adalah gudangnya para pakar Biblika dan bahasa-bahasa semitik yang sampai sekarang masih terus digunakan di Timur Tengah tersebut.
Cairo, 12 Nopember 2004
Penulis : Bambang Noorsena,SH,MA,DEA
Posted by
SB. Susanto
at
00:23
0
comments
Labels: Artikel
ADA APA DENGAN FILM AYAT-AYAT CINTA?

SELAYANG PANDANG KRISTEN KOPTIK DALAM NOVEL DAN FILM "AYAT-AYAT CINTA"
Oleh: Bambang Noorsena, SH, MA *
http://ourunity.blogspot.com/2008/05/selayang-pandang-kristen-koptik-dalam.html
1. Catatan Pengantar
Fenomena sukses film "Ayat-ayat Cinta", arahan Hanung Brahmantyo ini adalah menarik untuk dicermati. Film layar lebar yang diangkat dari novel karya Habiburrahman el-Shirazy ini [1] dalam waktu singkat telah berhasil meraup pemirsa lebih dari 3 juta orang di seluruh tanah air. Ada yang menonton ka¬rena memang lebih dahulu sudah menbaca novelnya, ada pula yang hanya "sekedar ingin tahu", karena penyam¬butan film ini yang cukup luas. Bukan hanya Dr. Din Syamsudin, Ketua PP Muhammadiyah, akan tetapi juga melibatkan Presiden SBY,Wakil Presiden Jusuf Kala, yang memberikan sambutan antusias.
Ada yang memuji, ada pula yang menanggapi biasa-biasa saja. Ada apa di balik novel dan film ini? Beberapa orang berkomentar, "ini iklan poligami", "referensi baru buat pemilik rumah makan Wong Solo", tetapi ada pula yang serius mencermati kaitan film dan novel ini dengan hubungan Kristen-Islam di Mesir. Artikel singkat ini, mungkin tergolong yang terakhir, kebetulan tokoh Maria Girgis, yang digambarkan berasal dari keluarga Kristen Koptik, Gereja pribumi di Mesir, sebagai Gereja Ortodoks terbesar di dunia Arab. Sebagai seorang pengamat Gereja-gereja Timur, kenyataannya saya menemukan beberapa kejanggalan mengenai tradisi Kristen Koptik, yang digambarkan "secara sambil lari" dalam film ini.
2. Sekilas Film "Ayat-ayat Cinta"
Sebelum memberi beberapa catatan terhadap novel dan film ini, bagi yang tidak membaca novel atau menonton film ini, akan disarikan cerita yang diangkat oleh novelis muda lulusan Universitas Al-Azhar, Cairo, ini: Dikisahkan, Maria Girgis (Carissa Putri), putri Tuan Butros dan Maddame Nafed [2] bertetangga flat (apartemen) dengan Fahri, mahasiswa Indonesia yang kuliah di Universitas al-Azhar. Maria, terlahir dari kelu¬arga Kristen Koptik, digambarkan mengagumi Al-¬Qur'an, karena ayat-ayatnya yang dilantunkan indah, bersimpati pada Fahri. Simpati yang akhirnya berubah menjadi cinta. Sayang sekali, Maria tidak pernah mengu¬tarakan perasaan hatinya. Ia hanya menuangkannya dalam diary saja.
Selain Maria, ada juga Nurul (diperankan Melanie Putri), mahasiswi asal Indonesia, anak seorang kyai yang cukup kesohor, yang juga menimba ilmu di Al-¬Azhar. Sebenarnya Fahri menaruh hati kepadanya, tetapi sayang rasa cinta itu dihalangi oleh perasaan mindernya, karena Fahri hanya anak seorang petani. Cinta yang akhirnya tak terucapkan. Ada juga tetangga yang selalu disiksa "ayahnya", dan Fahri ingin menolongnya, tetapi justru itulah yang menjadi awal bencana baginya. Fahri harus beberapa saat mendekam di penjara, karena tu¬duhan fitnah telah memperkosanya. Saat badai fitnah menimpa, saat itu Fahri sudah menikah dengan Aisha, gadis Turki yang menjadi warga Negara Jerman. Pen¬dekatan diplomatik Indonesia buntu, gagal membebas¬kan Fahri.
Tetapi berkat kewarganegaraan Jerman yang dimiliki Aisha, pengadilan Mesir melunak. Fahri bebas, setelah dibuktikan bahwa tuduhan itu fitnah belaka. Sebenarnya Fahri hanya difitnah, kesaksian Noura palsu karena dinyatakan di bawah tekanan Bahadur, "ayah"¬nya. Padahal Bahadur, yang ternyata bukan ayah kan¬dungnya, justru dialah yang memerkosanya, dan ingin menjualnya menjadi seorang pelacur. Sementara itu, Ma¬ria sedang sakit, karena tekanan batin yang dideritanya karena Fahri telah menemukan "sungai Nil"-nya, dan dia ternyata bukan dirinya. Tetapi berkat kegigihan Aisha, istri Fahri, Maria berhasil dihadirkan ke pengadilan. Ke¬datangannya menolong Fahri, karena ia menjadi saksi ketika Fahri dan Nurul menyembunyikan Noura di ru¬mah Nurul, demi menyelamatkan Noura dari amukan Bahadur.
Justru Aisha sendiri, yang ketika Maria terbaring sakit, membaca diary-nya. Ternyata Maria memendam rindu kepada Fahri, cinta yang dibawanya sampai ia ter¬baring sakit. Aisha terharu. Ia akhirnya bersedia "mem¬bagi cinta" dengan Maria. Suaminya justru disuruh mengawini Maria, karena itulah satu-satunya obat bagi kesembuhannya. Fahri dan Maria pun kawin atas res¬tunya. Madamme Girgis, ibu Maria, sangat berterima kasih dengan pengorbanan Aisha. Madamme Girgis me¬meluk erat Aisha, ketika wanita keturunan Turki itu menghindar dari akad nikah yang sedang diselenggarakan antara Fahri dan Maria yang sedang berbaring sakit, karena tidak bisa menahan gejolak jiwanya. Beberapa menit terakhir film ini diisi dengan adegan kebersamaan antara Fahri dengan kedua istrinya. Ada cemburu antara kedua istri Fahri, tetapi keduanya berusaha keras "menjaga hati". Sementara Fahri mempergumulkan makna keadilan bagi kedua istrinya. Aisha sedang hamil tua dan menunggu kelahiran bayinya, sementara Maria kembali jatuh sakit. "Ajarilah aku shalat", ucap Maria kepada Fahri, "karena aku ingin shalat bersama kalian". Fahri dan Aisha terkejut luar biasa. Dan dalam keadaan terbaring Maria shalat bersama Fahri dan Aisha, dan gadis Kristen Koptik itu mengehembuskan nafas terakhirnya sebagai seorang muslimah.
3. Tradisi Kristen Koptik di Mesir - Selayang Pandang
Gereja Ortodoks Koptik adalah gereja pribumi Mesir. Gereja ini lahir sejak awal sejarah Kekristenan, diawali dari kedatangan Rasul Markus, murid Rasul Pe¬trus sekaligus penerjemahnya, yang juga dikenal sebagai penulis Injil Markus [3]. Markus mati syahid di Alexandria tahun 54 M, dan sejak saat itu Kekristenan berkembang pesat di "Negeri Firaun" itu.
Berbeda dengan gereja-gereja di wilayah Arab utara, khususnya Gereja Ortodoks Syria, yang sejak sebe¬lum zaman Islam sudah menggunakan bahasa Arab, terbukti dari temuan-temua prasasti pra-Islam di wilayah Syria (Inskripsi Zabad tahun 512 M, Inskripsi Ummul Jimmal para abad VI M, dan inskripsi Hurran al-Lajja tahun 568 M), Gereja Koptik mula-mula memakai bahasa Koptik. Tetapi setelah kedatangan Islam, Gereja Koptik di Mesir mulai memakai bahasa Arab, berdam¬pingan dengan bahasa Koptik. Bahasa Koptik adalah bahasa zaman Firaun yang aksara-aksaranya diperbarui dengan meminjam aksara Yunani.
Perlu dicatat pula, di seluruh gereja Timur, termasuk Gereja Ortodoks Koptik, masih dilestarikan ta¬ta-cara ibadah dalam penghayatan budaya Kristen mula¬-mula. Misalnya: Shalat Tujuh Waktu (Sab'ush shala¬wat)[4], Shaum al-Kabir (Puasa Besar) pra-Paskah, selama minimal 40 hari, [5] membaca Injil dengan cara dilantunkan secara tartil (dikenal dengan Mulahan Injil- yang para¬lel dengan Tilawat al-Qur'an, dan masih banyak lagi. Anda bisa menyaksikan seorang pemuda yang komat¬-kamit membaca Kitab di tangannya sewaktu naik bus, atau kendaraan lain di Mesir. Siapakah mereka? Ternyata bukan hanya pemuda Islam yang membaca al-Qur'an, tetapi juga pemuda-pemuda Koptik dengan tatto Salib [6] di tangan sedang membaca kitab Agabea. Itulah Kitab Shalat Tujuh waktu, yang tidak pernah mereka alpakan, juga ketika mereka sedang berkendara di jalan, sepulang kantor, atau berangkat ke kampus.
Informasi terakhir, meskipun orang Muslim atau orang Kristen di Mesir sama-sama berbahasa Arab, tetapi antara keduanya tetap bisa dibedakan. Idiom-¬idiom keagamaan mereka berbeda, tetapi juga tidak ja¬rang pula sama atau paralel. Di koran-koran berbahasa Arab, ucapan bela sungkawa orang Kristen biasanya di¬awali ungkapan: Intiqala ila Amjadis samawat (Telah berpulang kepada Kemuliaan Surgawi), cukup mudah dibedakan dengan kaum Muslim: Inna Iillahi wa Inna Ilayhi Raji’un (Sesungguhnya semua karena Allah dan kepada-Nya pula semua akan kembali). Tapi ada banyak persamaan tradisi, misalnya: pertunangan, perkawinan, kematian, dan masih banyak lagi.
4. Resensi atas Novel dan Film "Ayat-ayat Cinta"
Kalau tidak berpretensi bisa atau mampu dalam meresensi sebuah novel apalagi sebuah film. Saya hanya ingin memberi beberapa catatan atas beberapa tradisi Mesir pada umumnya, dan tradisi Kristen Koptik di Mesir khususnya, yang kadang-kadang kurang tepat di¬sampaikan dalam film ini:
4.1. Adat-Istiadat, Bahasa dan Budaya
Beberapa tokoh dalam film ini gagal memerankan tokoh orang Mesir. Madamme Nafed (Marini) mamanya Maria, kala mengucapkan kata: "bisyur'ah" (cepat!), tampak kurang ekspresif. Alangkah lebih "Egypt" nu¬ansanya, bila ia berkata dengan penekanan: "Yala, yala, bisyur'ah, Ya Maria!", misalnya. Begitu juga, sebagai sosok gadis Mesir, Maria yang diperankan Carissa Putri, rasanya terlalu calm dan "melankolis". Ketika ia mengucapkan "Afwan" (terima kasih kembali), menja¬wab kata-kata Fahri ketika menerima kiriman juice mangga yang dikirim Maria melalui tariakn keranjang kecil dari jendela kamarnya: "Musyakirin awi’ala ashir Manggo" (Terima kasih banyak atas juice mangga) [7]. Lebih ekspresif, seandainya Maria mengatakan: "Afwan Ya Habibi!".
Malahan dalam suatu pesta perkawinan yang digambarkan dalam film tersebut, tidak ada bunyi ja¬greed (suatu bunyi siulan ibu-ibu yang menandai pe¬nyambutan acara-acara kegembiraan mereka). Yang juga tidak kalah penting untuk dicermati, dialek Arab tokoh Maria ketika bertanya: Qamus 'Arabi?, diucapkan dalam dialek terlalu "Saudi Arabia": Qomus ‘Arabi? Saya kira ini salah satu kekhasan mahasiswa Islam asal In¬donesia, karena ketika belajar bahasa Arab di pesantren, lebih mirip dialek Saudi Arabia yang memang lebih "fushah" (klasik). Tetapi tidak demikian dengan dialek Mesir, mereka tidak mengucapkan: Subhro, Mubarok, Rohmat, melainkan: Subhra, Mubarak, Rahmat, dan sebagainya.
Begitu juga, ungkapan salah seorang Mesir ketika melerai pertengkaran: "Khalash! Khalash!" (sudah, sudah!), lebih "Mesir" lagi kalau diucapkan: "Khalash, khalash ba'ah!". Begitu juga, biasanya seorang Mesir mengucapkan kara "La, la, la" (tidak, tidak, tidak!), sambil dengan jari terlunjuk bergerak-gerak, dan bibir berdecak. Ucapan "ahlan", biasanya diucap¬kan berkali-kali: "Ahlan, ahlan, ahlan..." Yang lebih mengganjal lagi, dalam salah satu percakapan, seorang tokoh mengucapkan dialek Mesir bercampur dengan bahasa Arab klasik: Asyan Ana bahibaki awi (Karena saya sangat mencintaimu), mestinya: Asyan Ana bahibik awi. Asyan adalah ucapan cepat dari alashan, sedangkan Ana Bahibak, Ana bahibik, dalam bentuk klasiknya: Ana uhibuka, Ana uhibuki.
Lokasi syuting yang memang tidak dibuat di Mesir, membuat pemirsa tidak bisa secara utuh meng¬ikuti dan membayangkan "suasana Mesir". Mulai ru¬mah-rumah warga kelas menengah ke atas, lengkap dengan mashrabiya-nya [8], jalan-jalan kota lama Cairo yang macet, tidak terkecuali Midan Tahrir dengan wa¬rung-warung Asher (juice) segarnya.. Malahan dalam suatu pesta perkawinan yang digambarkan dalam film tersebut, tidak ada bunyi jagreed (suatu bunyi siulan ibu-¬ibu yang menandai penyambutan acara-acara kegembi¬raan mereka). Masih banyak adat kebiasaan lain, yang dalam film ini tidak berhasil ditonjolkan dengan baik, se¬hingga ber-"suasana Indonesia dan India", ketimbang ber-"suasana Mesir", dan negara-negara Arab di
Timur Tengah pada umumnya.
4.2. Tradisi Kristen Koptik
Ada kesan kuat saya, bahwa penulis novel ini, sekalipun lama tinggal di Mesir, tidak mengetahui budaya dan tradisi Kristen Koptik. Misalnya, penggambaran Maria yang tertarik dengan Al-Qur'an karena ayat-ayat¬nya di-"tilawat"-kan dengan indah. Padahal tradisi untuk membaca Kitab Suci dengan tartil bukan hanya tradisi Islam, melainkan tradisi Timur Tengah (baik Yahudi maupun Kristen Timur) jauh sebelum lahirnya Islam. Sampai hari ini, gereja-gereja Timur (baik Gereja-gereja Ortodoks maupun Katolik ritus Timur) membaca Kitab Suci yang tidak jauh berbeda.
Simbol salib hanya ditonjolkan untuk mengisi latar belakang Koptik keluarga Maria, tetapi tradisi Koptik sama sekali tidak dipahaminya. Misalnya; Madamme Girgis digambarkan berdoa dengan melihat ke¬dua tangan, padahal orang-orang Kristen di Timur Tengah berdoa dengan cara menengadahkan tangan, sama dengan Islam. Bedanya, dalam Islam diawali dengan ru¬musan Basmalah: Bismillahi rahmani rahim (Dengan Nama Allah Yang Pengasih dan Penyayang), sedangkan dalam Kristen dengan membuat tanda salib dan berkata: Bismil Abi wal Ibni wa Ruhil Quddus al-Ilahu Wahid, Amin (Dengan Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Allah Yang Maha Esa, Amin).
Masih ada hal yang sangat menganggu, yaitu tattoo Salib di tangan Maria terbalik, dan terlalu besar ukurannya. Dan terakhir, permintaan Maria kepada Fahri ketika ia terbaring sakit: "Ajarilah aku shalat!", mestinya lebih baik diperjelas: "Ajarilah aku shalat secara Islam!". Mengapa? Sebab kata "shalat" saja, di Mesir dan di negara-negara Arab yang di dalamnya umat Islam dan Kristen hidup bersama-sama, bukan merupakan terma eksklusif Islami. Jadi berbeda dengan negara-negara Muslim non-Arab.
Orang-orang Kristen Koptik juga mengenal¬ waktu-waktu shalat yang tujuh kali sehari. Waktunya sama dengan shalat Islam, ditambah dengan "shalat jam ketiga" (kira-kira jam 09.00 pagi, untuk memperingati turunnya Roh Kudus, Kis. 2:15), dan jam 24.00 tengah malam, yang dikenal dengan, shalat Nishfu Lail (tengah-malam). Lima waktu shalat selebihnya untuk mengenal Thariq al-Afam (Via Dolorosa) atau jam-jam sengsara Kristus.
Lebih jelasnya, kala shalat, jauh sebelum zaman Islam kata ini sudah dipakai dalam bentuk Aram tselota. Menariknya, waktu-waktunya memang sama dengan Islam (Subuh, Dhuhr, ‘Asyar, Maghrib dan Isya), dan dua sisanya sejajar dengan salat sunnah Dhuha’ dan Tahajjud. Meskipun demikian, istilah, untuk waktu-¬waktu salat tersebut berbeda, dan waktu-waktu doa ini mempunyai makna teologis terkait dengan jam-jam sengsara Yesus Kristus (Thariq al-Afam)
sebagai berikut:
1. "Salat jam pertama" (Shalat as Sa’at al-Awwal), kira-kira jam 06.00 pagi waktu kita, untuk mengenang saat kebangkitan Kristus Isa Al-Masih) dari antara orang mati (Mrk.16:2).
2. "Salat jam ketiga" (Shalat as-Sa'at ats-Tsalitsah), kira-kira jam 9 pagi, yaitu waktu pengadilan Kristus dan turunnya Roh Kudus (Mrk. 15:25; Kis 2:15).
3. "Salat jam keenam" (Shalat as-Sa'at as-Sadi-sah), kira-kira jam 12 siang, yaitu waktu penyaliban Kristus (Mrk. 15:33, Kis. 3:30)
4. "Salat jam kesembilan" (Shalat as-Sa’at at Tasi’ah¬), kira-kira jam 3 petang, untuk mengenang kematian Kristus (Mrk. 15:33,38; Kis. 3:1);
5. "Salat Terbenamnya Matahari" (Shalat al-Ghurub), yaitu waktu penguburan jasad Kristus (Mrk.15:42).
6. "Salat waktu tidur" (Shalat ai-Naum), untuk mengenang terbaringnya tubuh Kristus; dan;
7. "Salat Tengah Malam" (Shalat as-Satar atau Shalat Nishfu al-Layl) adalah jam berjaga-jaga akan kedatangan Kristus (Isa Al-Masih) yang kedua kalinya (Why. 3:3)[9].
Salat Tujuh waktu (As-Sab'u Shalawat) ini, sama sekali tidak ada hubungannya dengan Islam. Me¬ngapa? Karena praktek doa ini, khususnya seperti yang dipelihara di biara-biara, sudah ada jauh sebelum zaman Islam. "Kanonisasi (waktu-waktu) salat" (Shalat al¬-Fardhiyah), sudah mulai dilakukan dalam sebuah doku¬men gereja kuno berjudul Al-Dasquliyyat atau Ta'alim ar-Rusul yang editing terdininya dikerjakan oleh St.Hypolitus pada tahun 215 M. [10]
5. Novel Religi, Film Dakwah: Bukan Film Cinta Biasa
Seperti komentar banyak tokoh dalam novel "Ayat-ayat Cinta", memang hasil karya Habiburrahman el-Shirazy ini bukan sekedar novel cinta biasa, melainkan novel cinta, religi, figh, politik yang sarat dengan pesan-¬pesan keagamaan. Novel ini ingin menghadirkan Islam secara damai, multi-kultural, sarat sentuhan nilai cinta kasih, dan jauh dari gambaran kekerasan yang selama ini sering di-stigmakan oleh orang Barat.
Meskipun demikian, novel ini juga sarat terhadap apologetika untuk membela Islam. Semangat dakwah yang berkobar-kobar perlu diacungi jempol, tetapi ter¬kadang "kelewat batas". Misalnya, dalam Bab 33: "Nya¬nyian dari Surga" (tetapi bagian ini untungnya tidak divisualisasikan dalam film), Maria bertemu dengan Bunda Maria, Ibunda Isa Al-Masih dalam mimpinya ketika terbaring sakit. Di Bab Ar-Rahmah (pintu Rah¬mat), Bunda Kristus itu, menampakkan diri begitu ang¬gun dan luar biasa. "Dia (Allah) mendengar haru biru tangismu", kata Bunda Maria, "Apa maumu?". "Aku ingin masuk surga. Bolehkah?", tanya Maria sambil menangis. "Boleh", jawab Bunda Maria. "Memang surga diperuntukkan untuk semua hamba-Nya. Tapi kau harus tahu kuncinya". "Apa kuncinya?", tanya Maria. "Nabi pilihan Muhammad Saw telah mengajarkannya berulang-ulang. Apakah kau tidak mengetahuinya?", tegas Bunda Maria. "Aku tidak mengikuti ajarannya", kata Maria. "Itu salahmu!", kata Bunda Maria lagi. Lalu dijelaskan bahwa jalan. ke surga itu harus lewat Islam.
"Maria, dengarlah baik-baik!", kata Bunda Kristus kepadanya. "Nabi Muhammad sudah mengajarkan kunci untuk masuk surga, "Barangsiapa berwudhu dengan baik lalu mengucapkan: Asyhadu ‘an La ilaha illallah wa asyhadu anna Muhamadan ‘abduhu wa rasuluh (Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah Hamba-Nya dan Rasul-Nya), maka akan dibukakan delapan pintu surga untuknya dan ia boleh masuk yang mana ia suka." Maria akhirnya masuk Islam, mengucapkan syahadat dan me¬laksanakan shalat sebelum ajal menjemputnya. Inilah "ending" novel dakwah ini.
6. Catatan Reflektif
Catatan reflektif saya, untuk mengakhiri artikel singkat ini, sedikit saja. Setiap orang bebas untuk me¬nyatakan keyakinannya. Termasuk keyakinan bahwa sur¬ga itu hanya "hak orang-orang Muslim". Kalau anda tertarik dengan tawaran ini, silakan saja. Bebas dan tidak ada yang melarang. Tetapi pernahkah anda berpikir, apa¬kah orang lain yang berkeyakinan berbeda bebas juga mengutarakan keyakinannya? Seperti keyakinan bahwa Bunda Maria, tokoh paling suci dalam Kekristenan sete¬lah Yesus Kristus, telah menunjuk bahwa jalan ke surga harus melalui Muhammad.
Bolehkah orang Kristiani, yang mempercayai bahwa Yesus adalah Jalan dan Kebenaran dan Hidup, dan tidak seorangpun yang sampai kepada Bapa kecuali melalui Kristus (Yoh. 14:6), meminjam "lisan Nabi Muhammad" untuk mengajar keyakinan itu? Moga-¬moga anda membolehkannya, seperti kami tidak men-¬demo ketika "Ayat-ayat Cinta" meminjam "mulut suci Bunda Maria" untuk dakwah agama Islam. Kalau begini, mengapa harus marah kepada Ahmadiyah? Sebaliknya, mengapa harus mengelu-elukan "Injil Yudas", dan "The Da Vinci Code", tanpa mempertimbangkan pera¬saan orang lain yang tidak menyetujuinya? Katakanlah, "berjuta-juta orang Kristen yang tersakiti perasaannya" karena publikasi novel dan film itu?"
Padahal film ini akan lebih mendidik lagi, kalau misalnya diungkap juga fakta keberdampingan harmonis kehidupan umat Kristen dan umat Islam di negeri yang oleh Ibnu Khaldun dijuluki "lbunda Dunia" ini. Mi¬salnya, tenda-tenda Ma’idah ar-Rahman (Jamuan Sang Pengasih), yaitu jamuan makan gratis yang dibuka di jaan-jalan kota Kairo, yang di beberapa wilayah Koptik, seperti Subhra, misalnya, selalu dibuka oleh uskup Gereja Ortodoks Koptik sebagai simbol persatuan nasi¬anal (Wihdat al- Wathani). Begitu juga, kehadiran Syeikh Al-Azhar, Dr. Muhammad Tanthawi, pada acara ‘Idul Milad (Natal) di Katedral Al-Qidis Marqus, Abbasiya. Tradisi saling mengucapkan selamat hari raya, baik hari-hari raya Islam maupun hari-hari raya Kristen, juga menjadi kebiasaan yang patut dijadikan referensi di negara-negara mayoritas Muslim non-Arab, seperti Afga¬nistan, Pakistan, dan Indonesia akhir-akhir ini, yang terkadang "lebih Arab ketimbang negara-negara Arab sendiri" [11].
Dan akhirnya, berbarengan dengan perasaan sedih dan menyayangkan peredaran film "The Fitna", saya yang terus menerus mencoba memahami sukacita anda menyambut film "ayat-ayat Cinta", izinkanlah saya mengucapkan: Mabruk, (Selamat!) atas prestasi dan sukses film ini. Ini bukan basa-basi. Karena sekalipun ada yang tidak saya setujui isinya, tapi hati saya turut merasakan gembira bila anda bergembira.
*) Bambang Noorsena adalah pendiri Institute for Syriac Christian Studies (ISCS), alumnus Kajian Perbandingan Agama pada Dar Comboni Institute, Cairo,
Mesir.
7. Lampiran Novel Ayat-ayat Cinta
Hal. 400 - HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY
Yang kuhafal, adalah surat Maryam yang tertera di dalam Al-Quran. Dengan mengharu biru aku membacanya penuh penghayatan.
"Selesai membaca surat Maryam aku lanjutkan surat Thaha. Sampai ayat sembilan puluh sembilan aku berhenti karenaa Babur Rahmah terbuka perlahan. Seorang perempuan yang luar biasa anggun dan sucinya keluar mendekatiku dan berkata, "Aku Maryam". Yang baru saja kausebut dalam ayat-ayat suci yang kau baca. Aku diutus oleh Allah untuk menemuimu. Dia mendengar haru biru tangismu. Apa maumu? Aku ingin masuk surga. Bolehkah? "Boleh". Surga memang diperuntukkan bagi semua hamba¬Nya: Tapi kau harus tahu kuncinya?' Apa itu kuncinya?
'Nabi pilihan Muhammad Saw. telah mengajarkannya berulang-ulang. Apakah kau tidak mengetahuinya?' Aku tidak mengikuti ajarannya.' Itulah salahmu.'
Kau tidak akan mendapatkan kunci itu selama kau tidak mau tunduk penuh ikhlas mengikuti ajaran Nabi yang paling dikasihi Allah ini. Aku sebenarnya datang untuk memberitahukan kepadamu kunci masuk surga. Tapi karena kau sudah menjaga jarak dengan Muhammad Saw, maka aku tidak diperkenankan untuk memberitahukan padamu.
Bunda Maryam lalu membalikkan badan dan hendak pergi. Aku langsung menubruknya dan bersimpuh di kakinya. Aku menangis tersedu-sedu. Memohon agar diberitahu kunci surga itu. Aku hidup untuk mencari kerelaan Tuhan. Aku ingin masuk surga hidup bersama orang-orang yang beruntung. Aku akan melakukan apa saja, asal masuk surga. Bunda Maryam, tolonglah aku. Berilah aku kunci itu! Aku tidak mau pergi selama-lama¬nya. Aku terus menangis sambil menyebut-nyebut nama Allah.
---------------------------------
[1] Habiburrahman EI Shirazy, Ayat-ayat Cinta: Sebuah Novel Pembangun Jiwa.
Edisi Revisi (Jakarta: Basmala dan Harian Republika.2006).
[2] Nama Girgis (arabisasi dari nama George, seorang santo atau al-qidis, yang sangat populer di Gereja-gereja orthodoks), Butros (arabisasi dari Petrus) dan nama-nama dalam bahasa Yunani, Ibrani atau Koptik, orang-orang Kristen Arab bisa juga memakai nama-nama Arab sebelum dan sesudah Islam. Biasanya, nama-nama Kristen Arab misalnya: Abdul Masih (Hamba Kristus), Abdul Fadi (Hamba Sang Penebus), cukup mudah dibedakan dengan nama-nama Arab Muslim: Abdul Aziz, Ramadhan, Mahmud, Ahmad, Ashraf dan sebagainya. Tetapi nama-nama seperti Abdullah (Hamba Allah), Ibrahim, Ishak, Mukmin, dan masih banyak lagi, adalah nama-nama netral yang dipakai baik orang Kristen maupun Islam
[3] Irish Habib al-Masri, Qishah Al-Kanisah al-Qibthiyyah. Jilid I (Cairo: Maktabah al-Mahabbah, 2003), hlm. 20-33. Lihat juga: A. Wessels, Arab and Christian? Christian in the Middle East (Kampen: Kok Pharos Publishing House, 1995), him. 126.
[4] Lihat panduan Shalat dalam Gereja Orthodoks Koptik: A/-Ajabiyya: As-Sab'u Sha/awot An-Nahtriyyah wa Lailiyyat (Cairo: Maktabah al-Mahabbah, 2001).
[5] AI-Qush Yoanis Kamal, Tartib UshbO' A/-A/om (Oar al-Jilli ath-Thaba'ah,2001).
[6] Munculnya tradisi tattoo salib di tangan, pertama kali berasal dari masa penganiayaan. Tanda itu menjadi semacam kode sesama umat Kristen demi keselamatan mereka dari para penganiaya mereka. Karena Gereja Koptik Mesir pada zaman Romawi menjadi gereja yang teraniaya, maka tarikh Koptik yang ditandai dengan peredaran bintang Siriuz, disebut dengan Tahun Kesyahidan (Anno Martyri), yang tidak termasuk tahun syamsiah (matahari) ataupun qamariyah (bulan), tetapi disebut tahun kawakibiyah (tahun bintang).
[7] Kata "musyakirin awi ala ..." (Terima kasih banyak atas...) adalah dialek khas Mesir, kata "awi" asalnya dari: "qa¬wwi" (besar), dalam bahasa Arab klasik: "Syukran 'ala... " (terima kasih atas...), atau "Alfu syukran "ala ..." (beribu terima kasih atas...)
[8] Mashrabia adalah jendela kecil yang terbuat dari kayu dan dihias dengan ukiran halus, biasanya digunakan oleh anak-anak gadis orang kaya untuk mengintip keluar tetapi orang tidak bisa melihat ke dalam.
[9] Fakta bahwa seluruh gereja-gereja di Timur, baik Ortodoks maupun Katolik ritus Timur. melaksanakan salat tujuh waktu baik sebelum maupun sesudah Islam dengan jelas dicatat Aziz S. Atiya, History of Eastern Christianity (Nostre Dome. Indiana: University of Nostre Dame Press, Lt.). Demikialah catatan Aziz S. Atiya mengenai pelestarian ibadah ini pada tiap-tiap Gereja: Orthodoks Koptik: "These seven hours consisted of the Morning prayer, Terce, Sext, None, Vespers, Compline and the Midnight prayer..." (hlm. 128). Mengenai Gereja Orthodoks Syria, "...keep usual hours from Matins to Compline, with they describe as the 'protection prayer' (Suttara) before retiring" (hlm. 124). Se¬dangkan Gereja Maronit di Lebanon: "Seven in number., they are the Night Office, Matins, Third, Sixth and Nine Hours, Verpers and Compline" (hlm. 414). Lebih lanjut. mengenai Shalat Tujuh Waktu ini dalam bahasa Arab. lihat: Mar Ignatius Afram al-Awwal Borshaum (ed.), Al-Tuhfat al-Ruhiyyahi fi ash-Shalat al-Fardhiyyah (Aleppo. Suriah: Dar al-Raha Ii an-Nasyr. 1990).
[10] Marqus Dawud (ed.), Al-Dasquliyyah, ar Ta'alim ar¬ Rusul (Cairo: Maktabah al-Mahabbah, 2003), Bab: Auqat Shalawat (Waktu-waktu Salat), hlm. 171-172.
[11] Lih. Artikel saya: Bambang Noorsena, "Ramadhan di Cairo", di Surabaya Post, 20 Agustus 2004, yang dimuat kembali di www.iscs.id
(Sumber: Acara Forum Fokus di Gedung Kasih Bersaudara - Lt.4, Awal April
2008)
Posted by
SB. Susanto
at
00:18
0
comments
Labels: Artikel
Sekali Lagi, Soal YHWH dan Allah
1.Catatan Pengantar
Ketiga artikel saya mengenai seputar kontroversi Allah dan YHWH, ditanggapi secara bertubi-tubi oleh kelompok ABA (Asal Bukan Allah) di www.salib.net Rupanya, mumpung website ini bersedia memuat tulisan-tulisan mereka, sebab banyak pembaca sudah bosan dengan argumentasi mereka yang hanya berputar-putar. Mas Anas seminggu lalu menulis via e-mail mengenai tanggapan ini, tetapi saya belum bisa membalasnya karena posisi saya masih di Luxor, dan baru tanggal 23 Desember saya kembali ke Kairo
Prinsipnya, sudah saya katakan, saya tidak akan menganggapi satu persatu, karena tidak ada waktu dan tidak terlalu perlu.
Soal kata-kata saya yang dianggap oleh mereka kasar, sombong dan sebagainya, tentu harus dilihat latarbelakangnya sejak awal. Pertama, artikel “Menjawab Gugatan Penentang Allah”, ditulis tahun 2000 ketika dr. Suradi gencar-gencarnya menyebarkan traktat mengenai Allah sebagai “dewa air”, yang tak ayal pula telah melahirkan reaksi keras dari kalangan Islam tertentu, sampai munculnya kasus Fatwa Mati dari para ulama Jawa Barat. Kedua, julukan “kurang cerdas”, “kurang terpelajar”, dan sebagainya, ini lebih merupakan reaksi atas sebuah aksi. Mengapa? Karena mereka telah membajak terjemahan Alkitab LAI, hanya kata Allah saja yang dibuang dan diganti elohim (ditulisnya: eloim), tidak perduli itu bahasa aslinya el, eloah, elohim (Ibrani) atau elah (Aram).
Terus yang menggelikan, seperti pernah dikatakan Romo Martin Harun, pada halaman terakhir terjemahan bajakan mereka, ditulis ungkapan bahasa Ibrani: Barukh Atta Adonay, diterjemahkan: “Tuhan Memberkati anda!” Padahal kalimat itu berasal dari doa Yahudi yang lengkapnya berbunyi: Barukh Atta Yhwh (baca: Adonay) Elohenu Melek ha ‘olam. Artinya: “Terpujilah Engkau Ya TUHAN, Ilah kami, Raja yang kekal” (A. Th. Philips, ed. Sefer Tefilah Makol Hasanah, New York: Hebrew Publishing Co, t.t., p. 723). Dari kasus kecil ini saja, kita bertanya: Bagaimana mungkin menerjemahkan seluruh Alkitab Perjanjian Lama dari bahasa Ibrani/Aram, sedangkan dalam kasus kecil saja membuat kesalahan? Inilah latar belakangnya kata-kata saya yang dianggap kasar itu, sebab dibandingkan dengan perbuatan pidana yang mereka lakukan, yaitu pembajakan hak cipta, tentu saja kata-kata saya itu tidak sebanding. Belum lagi, dampaknya pada hubungan Kristen-Islam, terbukti dengan munculnya Fatwa Mati yang menghebohkan itu.
Selanjutnya, menanggapi beberapa tanggapan dari kelompok ABA, yang mengkoreksi bahasa Arab saya. Pertama, sekali lagi argumentasi mereka terkadang tidak relevan dengan pokok bahasan. Misalnya, menurutnya Allah itu nama diri, karena itu kata tersebut tidak mempunyai bentuk plural. Untuk itu, diuraikan dengan panjang lebar mengenai jenis bentuk jamak dalam bahasa Arab: jamak mudzakar salim, jamak muanats salim, dan jamak taksir. Padahal mengatakan Allah tidak ada bentuk jamaknya, sudah cukup, kalau hanya untuk menjadikannya sebagai argumentasi bahwa Allah itu ghayr al-musytaq, menurut salah satu pandangan yang berkembang di kalangan Islam.
Kedua, soal kaidah transliterasi Arab ke dalam huruf Latin. Saya kira setiap orang yang mengerti bahasa Arab, akan tahu bahwa: Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah harus dibaca Ahlussunnah wal Jama’ah. Tetapi dalam tradisi penulisan ilmiah, biasanya ditulis kata demi kata dengan definite artikel (al) apa adanya, entah itu huruf syamsiah atau bukan. Cobalah membaca karya-karya ilmiah standar internasional, contohnya: Encyclopedia of Islam. Tradisi ilmiah ini juga umum diterima oleh kalangan cendekiawan Muslim. Cak Nur (Prof. Dr. Nurcholish Madjid), misalnya, ketika mengutip ayat al-Qur’an, biasanya menulis: Inna al-Diin ‘inda Allah al-Islam (baca: Innaddiina ‘indalaahil Islam). Itulah tradisi penulisan ilmiah, karena pembacanya dianggap sudah mengerti, yang tentu saja berbeda kalau kita baru belajar tajwid.
Begitu juga, dalam bahasa percakapan, tidak lazim misalnya mengucapkan: Kullu Sanatin wa antum bikhairin, melainkan Kullu Sanah wa antum bikhair. Jadi, ucapan menurut tajwid Shabahal khairi, atau Kullu sanatin wa antum bikhairin, hanya ada di kelas-kelas pelajaran bahasa Arab, dan tidak akan dijumpai dalam percakapan sehari-hari. Satu catatan kecil lagi, dalam hal kaidah penerjemahan. Terjemahkan saya, al-Baitu kabirun, “Rumah itu besar”, dikoreksi: “Rumah itu adalah besar”. Dalam bahasa Indonesia, “adalah” tidak harus selalu dicantumkan, karena menurut “rasa bahasa” justru janggal. Jadi, cukuplah “Rumah itu besar”.
Kasus yang sama misalnya, kalau kita jumpai kalimat: Ana huwa Nuur al-‘aalam (baca: Ana huwa Nuurul ‘alaam) tidak perlu diterjemahkan secara harfiah: “Akulah Dia Terang Dunia”, cukuplah dalam bahasa Indonesia: “Akulah Terang Dunia”. Lain-lain lagi, tidak akan saya tanggapi detil, cukuplah pembaca saya ingatkan dengan pepatah Jawa: Jalma limpad seprapat tamat. Sampeyan semua pasti mengerti maksudnya. Kualitas orang itu bisa dilihat dari pikirannya, cara bicaranya, cara menulisnya. Kalau memang mempunyai kapabiltas, belum ngomong banyak, ibarat baru seperempat saja sudah tamat, bisa paham seluruh yang dimak- sudkannya.
2. Soal al-Ilah dan Allah dan Kajian Filologi Lebih Mendalam
Saya sudah menjelaskan sampai terus terang saja capek, bahwa dalam Islam ada 2 pendapat mengenai hal ini. Ada yang mengatakan Allah itu ghayr al-musytaq atau tidak berasal dari kata lain, tetapi ada juga yang menganggapnya musytaq atau berasal dari kata lain. Kontroversi ini, bukan hanya terjadi pada masa modern, tetapi justru sejak masa klasik. Sekedar catatan saja, bahwa Sibawayh justru menerima pendapat bahwa kata Allah itu bentukan dari kata lain. Malahan pula, al-Kisa’i dan al-Fara’ menulis bahwa bacaan: Bismillah (Dengan Nama Allah) juga berasal dari: Bism al-Ilah (Dengan Nama al-Ilah). Dengan demikian, pendapat klasik ini paralel dengan inskripsi Arab-Kristen yang ditemukan di Zabad (512 M). Itu pendapat pertama.
Sebaliknya, pendapat kedua dianut oleh Abu al-Ma’ali, al-Khatabi dan al-Ghazali yang menganut pendapat bahwa Allah itu asli. Begitu pula, ada mufasirin yang menganut pendapat pertama, seperti Al-Baidhawi dan al-Zamakhsari, sedangkan ulama lain seperti an-Nawawi menganut pendapat kedua. Pada zaman modern ini, pemikir-pemikir Islam seperti Fazlur Rahman, Isma’il al-Faruqi, Nurcholish Madjid menganut pendapat bahwa Allah berasal dari al-Ilah. Begitu pula, konkordansi al-Qur’an Al-Mu’jam al-Mufahras karya Muhammad Faur ‘Abd al-Baqi (Kairo, tanpa tahun, pp. 40-75). Sedangkan ulama-ulama tradisional, yang kelihatannya lebih dilatarbelakangi alasan teologis, menganut pendapat bahwa kata Allah itu asli, dan tidak bisa diterjemahkan dalam bahasa lain.
Saya lebih menyetujui pendapat pertama, dengan argumentasi yang lebih saya dasarkan pada kajian bahasa, dan bukan dari sudut pandang teologis Islam yang agaknya berkembang zaman belakangan. Mengenai kata Allah dari al-Ilah ini, saya mengutip Al-Ma’jam al-Mufahras yang menempatkan kata Allah pada heading: hamzah, lam, haa (‘-l-h), karena Al- pada Allah adalah hamzah wasl, bukan hamzah qath’i. Karena itu, kalau sebelum kata Allah didahului dengan harf jar li (kepada), al- hilang (li llahi). Konkritnya, setelah li kata sandang al- hilang, tinggal llah (2 huruf lam karena di-syadah dan haa) . Jadi, bukan menjadi lah (dengan satu huruf lam dan haa), seperti yang ditulis penanggap, yang selanjutnya mengajukan argumentasi dari segi ilmu tajwid. Padahal argumentasi dari ilmu tajwid, dalam kasus ini juga tidak sepenuhnya kena. Mengapa? Karena ilmu-ilmu seperti tajwid, nahwu dan sharaf ini disusun setelah zaman Islam, dengan rujukan utamanya al-Qur’an, padahal perubahan al-Ilah menjadi Allah terjadi jauh sebelum Islam.
Hal ini tidak berarti kita bisa menabrak kaidah-kaidah ilmu kebahasaan, melainkan melacaknya lebih dalam yang mendahului munculnya ilmu-ilmu itu. Dari perspektif ulama Islam yang menanggap Allah tidak bisa diterjemahkan, mengajukan argumentasi: “Kalau Allah berasal dari al-Ilah, maka tidak dibenarkan menyebut: Yaa Allah, seperti tidak dibenarkan menyebut Yaa al-Rahman, melainkan Yaa Rahman”. Ini memang benar. Tetapi ungkapan Yaa Allah menjadi benar, karena kata Allah sudah dianggap satu kata tunggal, setelah kata sandang al- dan ilah disatukan pada masa sebelumnya, jauh sebelum kaidah kebahasaan itu dirumuskan. Ahmad Amien mengungkapkan, pada masa pra-Islam seruan doa yang lebih pupuler: Allahumma (Wahai Allah), dan ungkapan itu berkaitan dengan kata Ibrani Elohim (Ahmad Amien, Fajr al-Islam, Kairo, 1992, pp. 121-122).
Karena itu, kajian sepelik ini tidak cukup didekati dengan ilmu-ilmu yang dikembang-kan kemudian setelah pandangan teologis suatu agama mengalami pembakuan. Dalam pada itu, kita harus melacaknya jauh ke masa pra-Islam, dan sedapat mungkin menghindari tafsiran teologis. Mulai dari syair-syair Arab pra-Islam, inskripsi-inskripsi Arab Kristen di gereja-gereja Syria, pemakaian bahasa ini di lingkungan gereja-gereja Arab sebelum dan sesudah Islam, baru kemudian membandingkan dengan bahasa Arab al-Qur’an. Harus saya tegaskan, hanya dengan membaca pelajaran dasar bahasa Arab saja, sudah barang tentu sangat jauh dari memadai. Untuk lebih memberikan gambaran kepada pembaca, saya akan ambilkan beberapa contoh:
Dalam pengajaran bahasa Arab kita hanya akan menjumpai kaidah, misalnya, mengenai al-mamnu’u min al-syarf : “kata yang dikecualikan dari syarat tanwin, sedangkan alamat jar-nya fathah”. Misalnya, nama-nama seperti: ‘usamah, mu’awiyah, ibrahim, yang tidak bisa di-tanwin seperti muhammad, mahmud, kamaal dan sebagainya. Konkritnya, kita bisa menjumpai mu-hammadun, muhammadan, muhammadin, tetapi tidak demikian dengan nama Ibrahim atau nama Isma’il. Disini hanya menemui kaidah-kaidah bagaimana berbahasa yang benar, bukan bagaimana asal-usul munculnya kaidah-kaidah itu, dan menarik konsekuensinya lebih lanjut. Nah, menurut kaidah salah satu alasan perkecualian itu (al-mamnu’u min al-syarf), karena nama Ibrahim termasuk “nama orang asing” (al-‘alam al-‘ajnabi). Mengapa dimasukkan nama orang asing? Pertanyaan ini yang justru penting, yang tentu tidak dibahas lebih lanjut dalam kajian bahasa Arab. Jawabnya, nama Ibrahim itu sudah eksis sejak zaman sebelum Islam, yaitu sudah dipakai sebelumnya oleh orang Yahudi dan Kristen.
Orang Yahudi di Israel pasti mengucapkannya: Avraham, orang Kristen yang berlatar belakang bahasa Aram melafalkan: Abraham, dan sesudah berdiam di dunia Arab mereka melafalkannya: Ibrahim. Padahal di Indonesia, Ibrahim itu identik Islam, sedangkan Abraham identik Kristen. Ini terlepas dari klaim teologis bahwa Islamlah pewaris yang sah dari millat Ibrahim. Begitu juga klaim teologis serupa, baik dari kalangan Yahudi maupun Kristen. Sebab ilmu bahasa, sudah barang tentu, terlepas dari klaim-klaim teologis agama apapun. Bahasa itu netral, bagian dari kebudayaan manusia. Lebih-lebih lagi, bahasa-bahasa di Timur Tengah itu serumpun, dan dalam proses perkembangan sejarahnya yang panjang terjadi interaksi yang terus menerus.
Karena itu, lebih lanjut kita harus masuk dalam kajian filologi. Bagaimana misalnya cognate antara el, eloah, elohim (Ibrani), elah, alaha (Aram), ilah, alihat, al-ilah, allah, allahumma (Arab), bahkan dengan rumpun semitik yang lebih tua lagi: il, ilu (Akkadia). Begitu juga, perubahan bentuk nama-nama diri seperti Yeshua (Ibrani), menjadi Yesho, ‘Isho (Suryani/Syriac Barat), Yeshu’, ‘Isha (Suryani/Syriac Timur) dan Yasu’, ‘Isa (Arab). Lihat: Olaf Schumann, Pemikiran Keagamaan dalam Tantangan (Jakarta, 1990). Perubahan seperti ini adalah gejala lingustik yang lazim, yang dalam ilmu bahasa dikenal dengan proses “korespondensi bunyi” (the phonetic correspondence). Nah, ini hanya sekelumit contoh mengenai rumitnya kajian filologi, tidak sesederhana yang dibayangkan para penanggap tulisan saya yang “kebakaran jenggot” itu, dengan hanya mengajukan referensi Kamus Arab-Indonesia-Inggris, karya Abd bin Nuh dan Oemar Bakry. Apalagi di Indonesia, yang umumnya menganggap bahasa Arab secara eksklusif sebagai “bahasa Islam”, hingga tidak pernah dibahas keserumpunannya dengan bahasa-bahasa semitik yang lebih tua.
Manfaat filologi dan kajian sejarah ini sangat penting, karena sampai sekarang bahasa apapun terus memperkaya diri dengan menyerap bahasa-bahasa lain, tidak terkecuali bahasa Arab. Fenomena pinjam meminjam (borrowing) ini, dalam kajian bahasa Arab modern cukup mudah untuk memilah-milah, manakah yang kata Arab asli dan dari manakah akar katanya (al-jidr), ataukah manakah yang serapan dari bahasa-bahasa asing. Misalnya, kata-kata seperti: al-dimukratiyyah (demokrasi), al-liturjiyyah (liturgi), al-yuraniyum (uranium), jelas-jelas serapan dari bahasa asing, sehingga tidak ditemukan akar katanya. Tetapi menjadi sulit, kalau sebuah kata muncul dari masa pra-Islam, dan kata itu tercantum dalam al-Qur’an yang sudah barang tentu tidak boleh dikuti-kutik lagi. Saya kira ini adalah problem hampir semua agama dalam memandang teks-teks suci mereka.
Meskipun demikian, banyak ahli yang kini tertarik kepada kajian ini. Untuk mengemukakan satu contoh saja, kata “amiin” dalam doa. Jelaslah bahwa kata ini sudah dipakai dalam bahasa Ibrani dan Aram (yang kemudian diambil begitu saja tanpa terjemahan dalam semua bahasa). Karena itu, kata ini jelas-jelas pinjaman dari bahasa lain. Selanjutnya, menarik sekali ditanyakan, apakah kata “amiin” ini dalam bahasa Arab termasuk dalam harf, ism ataukah fi’il? Juga, dari akar-kata apakah “amiin” itu? Kalau kita hanya mendasarkan kepada tatabahasa Arab, pastilah jawabannya tidak tuntas. Sebut saja, misalnya Syeikh Nawawi menulis: “Amin, yaitu kata benda yang mengandung makna kata kerja perintah, yakni: kabulkanlah!” (aamiin wa huwa ismun bima’na fi’lun amrin wa huwa istajib). Itu saja yang dapat kita baca dari Maraah Labiid Tafsiir al-Muniir, karya Syeikh Nawawi al-Bantani.
Tentu saja, keterangan ini dari segi historis tidak mampu menjawab bagaimana kata asing itu masuk dalam bahasa Arab. Mungkin problem ini baru bisa dituntaskan kalau kita memasuki kajian filologi. Sayyed Mahmud al-Qimni, seorang pemikir Muslim, mengupas masalah ini dalam bukunya, Ibrahim an-Nabi wa al-Tarikh al-Majhul, membuktikan bahwa ternyata kata ini pinjaman dari bahasa lain. Menurut al-Qimni, kata ini tidak hanya dipinjam dari bahasa Ibrani, melainkan dibuktikan lebih jauh dari bahasa Mesir kuno, terkait dengan kata: Amen, atau Amon, “Dia Yang Esa dan Tersembunyi”, menurut konsep henoteisme Mesir kuno. Jadi, kata ini diambilalih oleh Perjanjian Lama Ibrani (mungkin ketika bangsa Yahudi pra-Musa hidup dalam perbudakan Firaun), lalu diikuti Perjanjian Baru Yunani dan bahasa-bahasa lain, dan kemudian diteruskan dalam bahasa Arab melalui al-Qur’an. Dalam kajian filologi yang lebih mendalam, al-Qimni juga sepakat bahwa kata Allah memang berasal dari al-Ilah.
Karena itu, lebih lanjut kita harus memahami “filsafat bahasa” yang melatarbelakangi disusunnya Ilmu Nahwu. Misalnya, melacaknya langsung dari tulisan perintis ilmu ini, Sibu-wayh. Cobalah kita membaca kajian-kajian penulis modern mengenai karya Sibawayh dari sudut metodologi, syntax, fonologi bahkan kutipan syair-syair pra-Islam yang menjadi salah satu rujukan bapa kajian nahwu ini, misalnya M.K. Al-Bakka, Manhaj Kitab Sibawayhi fi al-Taqwim al-Nahwi (Bagdad, 1989). Syukur-syukur, kalau kita bisa sanggup membaca langsung 5 jilid buku Kitab Sibawayh (Cairo, 1968). Sibawayh mengambil kaidah dalam menyusun tata bahasa Arab dari sumber al-Qur’an dan Hadits, selain ia juga meneliti bahasa percakapan kaum Badui dan syair-syair pra-Islam.
Tetapi patut dicatat pula, bahwa di kalangan Kristen Arab juga berkembang pemakaian bahasa Arab yang style-nya agak berbeda, karena banyak sekali mendapat pinjaman dari bahasa Ibrani, Aram, Koptik, Yunani yang tidak dijumpai dalam bahasa Arab Islam. Contoh ungkapan-ungkapan Arab Kristen ini, yang bertumbuh di luar alur perkembangan bahasa Arab teologis Islam, antara lain dibahas oleh W. Montgomerry Watt, “Two Interesting Christian-Arabic Usages”, dalam Early Islam: Collected Articles (Edinburgh, 1990), pp. 71-74.
Kembali ke pembahasan mengenai Allah. Perlu dicatat pula, bahwa dalam al-Qur’an kata Allah tidak muncul bersama-sama dengan al-Ilah, tetapi sering dihubungkan dengan kata ilah (cf. Laa ilaha illa Allah, Allahu laa ilaha illa Huwa). Sedangkan dalam beberapa terjemahan Alkitab bahasa Arab, Allah sering muncul bersama al-Ilah. Begitu juga dalam syair-syair pra-Islam. Hal itu disebabkan karena al-Qur’an menerima bentuk singkat al-Ilah (yaitu Allah), sedangkan kalangan Arab Kristen menampilkan kedua-duanya, Allah dan al-Ilah. Dan berbeda dengan anggapan sebagian umat Islam, dalam Alkitab al-Muqaddas (Alkitab bahasa Arab) kata Allah itu bukan “nama diri Sang Pencipta” (the proper name of God).
Itulah sebabnya, sampai sekarang dalam buku-buku liturgi Kristen-Arab ungkapan: Yaa Allaah, sering bergantian muncul dengan: Ayyuha al-Ilah (baca: Ayyuhal Ilah). Ungkapan “Ayyuha al-Ilah”, tidak dijumpai dalam al-Qur’an dan tidak lazim dalam bahasa teologis Islam. Inilah salah satu alasan mengapa para pakar Kristen pada umumnya menganut pendapat bahwa kata Allah adalah bentukan dari kata al-Ilah., Penggunaan ungkapan Yaa Allah, Ayyuha al-Ilah dan Allahumma ini, dalam doa-doa Kristen-Arab misalnya dapat kita ikuti contohnya dari 3 versi pembukaan doa trisagion: (1) Quddusu Anta Yaa Allah, (2) Quddusu Anta Ayyuha al-Ilah, dan (3) Quddusu Anta Allahumma. Artinya, kurang lebih sama saja: “Kuduslah Engkau, Ya Allah!” . Lih. Mar Ignatius Afram Barshaum, Al-Tuhfat al-Ruhiyyah fi al-Shalat al-Fardhiyyah, Aleppo, 1992).
3. Penolakan “Allah”: Bertolak dari Asumsi Teologis
Diakui atau tidak, gerakan “asal bukan Allah” ini diawali oleh sebuah asumsi teologis tertentu, seperti tampak dari traktat “sampah” Stephen van Natan dan karya polemikus Robert Morrey yang diwarnai sikap anti-Islam itu. Pandangan polemik ini, di Indonesia mula-mula dimunculkan melalui traktat-traktat Dr. Suradi (“Siapakah Yang Bernama Allah?”, dan sebagai-nya), yang sekarang diteruskan oleh para “pengagung empat huruf YHWH” yang kini bermasalah dengan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Jadi, seluruh argumentasi penolakan yang mereka bangun, sebenarnya mula-mula hanya untuk mempertahankan asumsi teologis, bahwa Allah itu nama dewa kafir sebelum Islam.
Padahal harus ditekankan, terlepas dari penolakan orang Kristen bahwa Islam secara teologis adalah kesinambungan dari agama Yahudi dan Kristen, tetapi tidak bisa disangkal bahwa bahasa Ibrani, Aram dan Arab adalah termasuk dalam rumpun bahasa-bahasa semitik. Karena itu, membaca kamus terbitan manapun di bawah kolong langit ini, akan kita jumpai: el, eloah, elohim, ha-elohim (Ibrani), memang cognate dengan allah, ilah, alihat, al-Ilah, allahuma (Arab). Lihat: M. Al-Taunaji, Qamus ‘Arabi-‘Ibri – ‘Ibri-‘Arabi (Tripoli, 2004, pp. 20-21). Begitu juga, mengenai cognate bentuk Arab ilah, alihat, allah dengan bahasa Aram alah, alahin, alaha dapat kita baca dari karya Jibril al-Qardahi, Al-Lubab: Qamus Suryani-‘Arabi (Aleppo, 1994). Tidak ada satu kamus pun di dunia ini, yang menulis Allah: “dewa kafir bangsa Arab”, theos, “dewa pagan bangsa Yunani”, kecuali sebagai keyakinan teologis seseorang.
Kalau orang berpikir “hitam putih” seperti ini, konsekuensinya akan semakin meluas. Misalnya, nanti akan ada penolakan terhadap term “teologis” (karena berasal dari theos, yang dicap “dewa kafir Yunani”, dan Logos, “an intermediary being” dalam filsafat Helenis). Apalagi dalam kasus bahasa-bahasa serumpun seperti Ibrani, Aram dan Arab. Jadi, tidak bisa kita mengikuti keyakinan beberapa kelompok fundamentalis Kristen, bahwa gara-gara istilah Allah dipakai oleh orang-orang Mekkah pra-Islam dalam makna pagan, kemudian orang-orang awam Kristen ditakut-takuti: “Awas, Allah itu Dewa Bulan!”, karena orang Islam memasang tanda bulan sabit di atas kubah masjid.
Sudah saatnya orang Kristen mengembangkan refleksi teologis yang biblikal, “Apakah dewa bulan itu memang ada?”. Jawabnya: Ada, tetapi tidak benar-benar ada! Maksud saya, ada dalam pemikiran orang jahiliyah, dan tidak sungguh-sungguh ada secara nyata. “Dewa air”, “dewi kucing”, “dewi matahari”, semua itu ada dalam pikiran orang-orang yang secara salah mencitrakan Sang Pencipta, TUHAN Yang Mahaesa. Dan lebih penting, kalau kita mengakui bahwa ilah-ilah lain itu memang benar-benar ada disamping “satu-satunya Ilah” (al-Ilah, Allah), apakah kita tidak menjadi politeis terselubung? Mengapa? Karena kita percaya satu Tuhan, tetapi ilah-ilah lain memang diakui ada. Kita harus jujur mengakui, bahwa setiap agama memang mempunyai konsep mengenai ilah yang berbeda-beda. Tetapi perbedaan konsep kita mengenai ilah-ilah atau tuhan-tuhan itu, tentu tidak berarti ada banyak tuhan-tuhan sebanyak jumlahnya agama-agama di dunia.
Jadi, meskipun memang banyak yang disebut ilah-ilah dan tuhan-tuhan di dunia ini, tetapi hanya ada satu Allah. “Tidak ada berhala di dunia ini”, kata Rasul Paulus, “dan tidak ada ilah kecuali Allah Yang Maha Esa” (wa ‘an laa ilaha illa allah al-ahad) (1 Korintus 8:4, Today’s Arabic Version). Singkatnya, kalau kita mengaku beriman kepada satu TUHAN (Ulangan 6:4), tetapi kita tidak menegasikan ilah-ilah lain yang sebenarnya tidak ada itu, apakah tauhid (monotheism) kita tidak cacat? Itulah makna penegasan: Laa ilaha illa Allah, yang kalau kita rekonstruksikan dari bahasa Aram: Lait alaha ella had alaha. Maksudnya: “Tidak ada ilah kecuali Allah (=al-Ilah, “satu-satunya ilah”).
4. Perjanjian Baru Ibrani Bukan Teks Asli
Kalau salah seorang penanggap, membuktikan bahwa dalam Yesaya 33:2, tetagramaton YHWH tidak diterjemahkan, tidak perlu aneh. Begitu juga dalam dalam beberapa terjemahan Alkitab bahasa Inggris tidak menerjemahkan YHWH, tidak ada yang aneh. Untuk kepentingan kajian kritis, bukan hal yang perlu ditentang. Begitu juga Alkitab bahasa Jawa, yang diterjemahkan sebelum penerjemah mengikuti tradisi akademik United Bible Societies (UBS) dan TENAKH: The Jewish Holy Scriptures, yang menerjemahkan YHWH dengan “The LORD”. Tetapi menjadi masalah, kalau dalam Perjanjian Baru kita membaca kata YHWH. Mengapa? Karena tidak pernah ada bukti adanya manuskrip asli Perjanjian Baru bahasa Ibrani, kecuali hasil terjemahan UBS dari bahasa asli Yunani pada beberapa dasawarsa terakhir ini.
Seorang penanggap mengatakan, terjemahan Arab itu banyak, sambil mengutip salah satu terjemahan terbitan Call of Hope, Jerman. Perlu saya sampaikan, terjemahan Call of Hope yang dikutip oleh penanggap itu adalah hasil terjemahan Van Dyck. Sedangkan saya mengutip Al-Kitab al-Muqaddas, Today’s Arabic Version, terbitan Dar al-Kitab al-Muqaddas fi al-Syarq al-Ausath, Beirut. Berbeda-beda, wajar karena memang itu terjemahan, bukan teks asli. Tetapi menjadi aneh bin ajaib, kalau kelompok para pengagung empat huruf itu mengambil salah satu terjemahan Ibrani, lalu seolah-olah memberlakukannya sebagai teks asli.
Lebih parah lagi, berdasarkan teks terjemahan itu, mereka mencoba untuk mengkoreksi teks asli Yunani. Apakah berlebihan kalau saya katakan “logika jungkir balik?”. Mereka tidak mempercayai keakuratan teks Perjanjian Baru, tetapi anehnya mereka tidak bisa mengajukan bukti adanya teks asli Ibrani. Memang Yesus ketika mengutip Yesaya 61:1-2, masuk akal saja mengutip dalam bahasa Ibrani. Tetapi teks asli yang sampai kepada kita adalah bahasa Yunani. Bisa-bisa saja kita merekonstruksikan sabda-sabda asli Yesus itu dalam bahasa Ibrani (ketika membaca Perjanjian Lama), dan juga bahasa Aram (ketika mengajar sehari-hari), seperti dilakukan Matthew Black, An Aramaic Approach to the Gospels and Acts (Oxford, 1967). Tetapi para teolog tetap menghormati teks asli Yunani, sekalipun mereka membedahnya dengan pendekatan kritik teks, kritik bentuk, kritik sastra, yang dilakukan dalam rangka memperjelas konteks mula-mula kehidupan Yesus, sabda-sabda dan pengajaran-Nya yang dicatat dalam teks Perjanjian Baru.
Mengenai teks sumber ini, saya hanya mengajukan satu contoh saja inkonsistensi mereka dalam menyikapi teks-teks Perjanjian Baru. Misalnya, dipersoalkan redaksi: Eli, Eli Lamma Sabakhtani menurut Matius 27:46 dengan Eloi, Eloi Lama Sabakhtani menurut Markus 15:34. Mana yang benar? “Pasti ucapannya hanya satu”, tulis mereka. Dengan perbedaan ini mereka lalu meragukan teks Yunani, tetapi mereka tidak bisa mengajukan teks asli yang mereka bayangkan berbahasa Ibrani itu. Sungguh-sungguh aneh, sebab dalam terjemahan Ibrani pun perbedaan itu tetap ada. Lebih-lebih lagi, harus ditegaskan tidak hanya ada satu terjemahan Ibrani.
“…..Elahi, elahi, Lemah Syabaqtani, asyer feruso Eli, Eli Lamah ‘Azvatani”.
Markus 15:34, Ha B’rit Ha Hadasah (England: The Society for Distributing The Holy Sciptures, 1971).
“….El, El, Lemana syebaqtani, dehayenu Eli, Eli Lamah ‘azvatani”.
Markus 15:34, Ha B’rit Ha Hadasah. The New Covenant Aramaic Peshitta Text with Hebrew Translation (Jerusalem: The Bible Society in Israel, 1986).
“….Eli, Eli Lemah Syavaqtani, we targumo Eli, Eli Lamah ‘azvetani”
Matius 27:46, Ha B’rit Ha Hadasah
(England: The Society for Distributing The Holy Sciptures, 1971).
Ungkapan “dan terjemahannya” (we targumo) ini, dengan jelas menunjukkan bahwa teks asli ditulis dalam bahasa Yunani, karena itu ketika mengutip kata-kata asli Yesus dalam bahasa Aram, perlu ada penjelasan dalam bahasa Yunani. Berdasarkan teks asli Yunani tersebut, beberapa waktu akhir ini mulai diterjemahkan dalam bahasa Ibrani. Masih banyak sekali contoh-contoh seperti ini, tetapi mereka tetap saja memberlakukan terjemahan Ibrani (entah terbitan mana yang mereka ambil), seolah-olah sebagai teks asli.
Selanjutnya, salah seorang penanggap mengajukan asumsi bahwa seluruh cerita atau percakapan Perjanjian baru didominasi bahasa Ibrani-Aram, sementara itu pencatatnya lebih fasih dalam bahasa Yunani dan bukan mustahil tidak terlalu ahli dalam bahasa Ibrani-Aram sehingga ada beberapa kesalahan. “Naskah inilah yang selamat terpelihara hingga saat ini”, tulisnya. Saya bertanya, “Naskah manakah yang berhasil diselamatkan itu?” Tidak pernah ada naskah Perjanjian Baru dalam bahasa asli Ibrani. Nah, bagaimana mungkin mereka begitu gencar menyiarkan pandangan-pandangan mereka, tanpa dukungan teks asli manapun, kecuali hanya praduga-praduga belaka.
Soal rekonstruksi beberapa ahli atas percakapan Yesus dalam bahasa Aram, memang menarik. Sekalipun demikian, dari sudut kritik teks sangat lemah. Mengapa? Sebab kita memiliki manuskrip Perjanjian Baru yang berasal dari tahun yang begitu dekat dengan waktu penulis-annya mula-mula. Misalnya, manuskrip Injil Yohanes dari Kanon Muratori kira-kira berasal dari tahun 115, sehingga jarak manuskrip tua ini dengan waktu Injil keempat itu ditulis (kira-kira tahun 90 M) hanya berjarak sekitar 25 tahun saja. Sedangkan Peshitta berbahasa Aram, ditemukan bertanggal belakangan jauh setelah manuskrip-manuskrip Yunani, dan itupun tidak semua naskah Perjanjian Baru lengkap. Apalagi Perjanjian Baru bahasa Ibrani, yang baru jelas-jelas baru diterjemahkan sekiatar tahun 1970-an.
Penulis : Bambang Noorsena, SH,MA,DEA
Posted by
SB. Susanto
at
00:12
0
comments
Labels: Artikel
Dari Kata Allah Hingga Lam Yalid Wa Lam Yulad
Beberapa hari lalu (th.2004), seorang teman dari komunitas jurnalis Kristen meminta saya untuk turut dalam perdebatan soal nama Allah. Terus terang, saya malas. Mengapa? Karena saya sangat mengenal "kaum penentang Allah" itu, pola pikir mereka "hitam putih", main kutip ayat-ayat Alkitab secara harfiah terlepas dari konteks (mirip dengan "metode ayat bukti" a la bidat Saksi-saksi Yehuwa), dan kekurangan paling serius mereka, tidak menguasai filologi bahasa-bahasa semitis, khususnya keserumpunan bahasa Ibrani, Aram dan Arab.
Karena itu, saya anggap enteng saja gerakan mereka itu. Tetapi setelah melihat sepak terjang mereka semakin ngawur, hantam kromo, dan lebih penting lagi agaknya mereka didukung oleh dana yang cukup besar, saya harus belajar telaten menulis untuk menjelaskan kaum awam dalam bahasa Arab itu. Tulisan singkat ini, kiranya dapat membatu umat Kristiani di Indonesia yang "sedang diombang-ambingkan oleh penga-jaran mereka"
.
Asal-usul Allah: Tinjauan dari Bahasa Arab
Kalau dr. Suradi mula-mula, -- sebagaimana banyak artikel-artikel polemik Kristen terbitan Amerika, -- menyangkal sama sekali bahwa istilah Allah cognate dengan El, Eloah, Elohim (Ibrani) dan Elah, Alaha (Aram/Suryani), kini para penerusnya mencoba memisahkan antara kata-kata ilah (sembahan), alihat, (sembahan-sembahan) dan al-Ilah (sembahan itu, sembahan yang benar) yang se-rumpun dengan istilah el, eloah, elohim dengan Allah yang dianggapnya "nama dari dewa Arab yang mengairi bumi". Allah, yang dianggapnya sebagai nama "dewa air", dirujuknya dari artikel Wahyuni Nafis, dalam bunga rampai The Passing Over: Melintas Batas Agama, menjadi dasar penolakannya terhadap penggunaan kata Allah dalam Alkitab Kristen di Indonesia.
Untuk meneguhkan pembedaan antara ilah, alih-ah, dan al-Ilah dengan Allah, Teguh Hendarto lalu menyangkal bahwa istilah Allah berasal dari al-Ilah (Bahana, Maret 2001). Menurut argumentasinya yang sangat awam mengenai bahasa Arab, ia menulis kalau al-Ilah dapat disingkat menjadi Allah, mengapa Alkitab tidak menjadi Altab? Untuk itu saya harus menjelaskannya secara sabar, karena mungkin ia tidak bisa membaca sepotongpun huruf Arab, meski gayanya yang kelewat percaya diri seolah-olah mau menggurui saya.
Begini, pada prinsipnya sebuah kata dalam bahasa-bahasa semitik dibentuk dari akar kata (al-jidr) yang biasanya terdiri dari 3 konsonan. Akar kata itu bisa dipecah-pecah menjadi kata benda, kata sifat, kata kerja dan kata benda baru. Misalnya, kitab dari kata k-t-b. Dari akar kata ini, lalu dibentuklah menjadi banyak kata: kata benda, kata kerja, dan sebagainya. Dari akar kata k-t-b kita dapat menemukan kata-kata sebagai berikut: kitaab (buku), kaatib (penulis), maktabah (perpustakaan), maktub (tertulis, termaktub), uktub (tulislah!), dan seterusnya.
Sedangkan kata Ilah, al-Ilah terbentuk dari 3 akar kata hamzah, lam, haa (‘-l-h). Dari akar kata ini, kita mengenal isltilah ilah, alihah, dan al-Ilah (atau bentuk singkatnya: Allah). Sebagai sesama bahasa rumpun semitis, bahasa Ibrani dan bahasa Aram mempunyai ciri yang sama. Saya juga pernah menulis, bahwa kata Ibrani Elah, Eloah berasal dari kata el (kuat) dan alah (sumpah). Al- dalam kata Allah berbeda dengan El (kuat) dalam bahasa Ibrani. Kata Ibrani El, sejajar dengan bahasa Arab Ilah, sedangkan kata sandang Al- yang mendahului Ilah sejajar dengan bahasa Ibrani ha-elohim (Raja-raja 18:39). Tetapi kasus penyingkatan al-Ilah menjadi Allah hanya terjadi dalam bahasa Arab, tidak terjadi dalam bahasa Ibrani atau Aram.
Selanjutnya, memisahkan sebutan Allah dari Ilah, al-Ilah juga tidak bisa dipertahankan. Sebab ahli bahasa Arab, baik dari kalangan Islam maupun Kristen, juga banyak yang menganggap bahwa sebutan Allah itu musytaq atau dapat dilacak asal-usulnya dari kata lain. Jadi, tidak benar anggapan kaum penentang Allah itu yang mengatakan bahwa Allah tidak bisa diterjemahkan dalam bahasa-bahasa lain. Memang, ada penerjemah al-Qur’an yang berpandangan demikian, misalnya terjemahan Abdallah Yusuf Ali, The Meaning of The Holy Quran.
Jadi, tidak semua umat Islam berpandangan bahwa istilah Allah itu ghayr al-musytaq (tidak berasal dari kata lain, karena dianggap "the proper name"). Sama seperti "kaum penentang Allah" yang menganggap Yahweh tidak bisa diterjemahkan, begitu juga di kalangan Islam ada yang berpandangan seperti itu. Pdt. Jacob Sulistiono mengutip majalah Islam Sabili, yang memuat tulisan seorang Muslim yang menganggap bahwa Allah itu tidak bisa diterjemahkan, tetapi itu tidak mewakili pendapat seluruh umat Islam di dunia. Bahkan di kalangan Islam sendiri, Sabili sering dianggap mewakili kelompok Islam garis keras, setali tiga uang dengan "kaum penentang Allah", minimal dalam pandangan teologisnya yang sama-sama "hitam putih" itu.
Salah satu diantara terjemahan al-Qur’an dalam bahasa Inggris yang menerje-mahkan istilah Allah, misalnya silahkan membaca: The Massage of the Qur’an, oleh Muhammad Asad. Dalam terjemahan yang cukup otoritatif di dunia Islam Barat ini, ungkapan: Bismillahi Rahmani Rahim diterjemahkan: "In the Name of God, The Most Grocious, The Dispenser of Grace".
Memang, Sabili dalam salah satu terbitannya pernah menguraikan bahwa secara etimologis, kata Allah yang terdiri dari huruf alif, lam, lam dan ha' dengan tasydid sebagai tanda idgham lam pertama pada lam kedua) adalah ghairu musytaq (tidak ada asal katanya dan bukan pecahan dari kata lain). Karena itu, kata ini tidak bisa diubah menjadi bentuk tatsniyah (ganda) dan jama' (plural). Demikian pula kata ini tidak dapat dijadikan sebagai mudhaf. Jacob Sulistiono mengutip ini, saya yakin ia sendiri tidak mengerti apa itu bentuk mutsanah, jama’ atau mudhaf dalam bahasa Arab.
Harus saya jelaskan sekali lagi, padangan Sabili sama sekali tidak bisa dianggap representatif mewakili Islam. Banyak ulama Islam terkemuka yang berpandangan sebaliknya. Contohnya, kita bisa membaca kitab yang sangat terkenal di dunia Arab, al-Mu’jam al-Mufahras, yang menempatkan kata Allah tersebut di bawah heading (judul): hamzah, lam, haa ( ‘-l-h). Mengapa? Karena Al- pada Allah adalah hamzah wasl, sehingga Al- bisa hilang dalam kata: wallahi, bi-lahi, lil-lahi, dan sebagainya. Misalnya, pada kalimat Alhamdu lil-lah (segala puji bagi Allah), lil-lahi ta’ala (karena Allah Yang Maha Tinggi), kata sandang Al- di depan Allah juga dihilangkan.
Sedangkan kata Allah tidak bisa dijumpai dalam bentuk ganda dan jamak, secara historis dibuktikan karena kata sandang al- yang mendahului kata ilah, muncul untuk menegaskan: ilah itu, yang sudah mengandung makna pengkhususan. Maksudnya, bisa berarti Dia adalah ilah yang paling besar, sedangkan ilah-ilah lain berada di bawahnya, seperti dianut kaum Mekkah pra-Islam, seiring dengan pergeseran dari paham politeisme menuju henoteisme. Sebaliknya, bisa juga berarti "ilah satu-satunya, yang tidak ada ilah selain-Nya". Makna kedua ini, antara lain diberikan oleh orang-orang Yahudi, Kristen, kaum Hanif pra-Islam di wilayah Arab untuk menegaskan Keesaan-Nya. Tradisi monoteisme inilah yang kemudian dilanjutkan oleh Islam.
Selanjutnya, kata Allah memang tidak dapat dijadikan mudhaf, tetapi itu tidak berarti bahwa Allah itu nama diri. Sebab bukan hanya "nama diri" yang tidak bisa dijadikan mudhaf, tetapi setiap bentuk ma’rifah juga tidak bisa dijadikan mudhaf. Misalnya, kita berkata: Baitu al-Kabiiri (Rumah yang besar itu). Kata baitu dalam kalimat ini adalah "mudhaf", sedangkan al-kabiiri adalah "mudhaf ilaih". Tetapi kalau kita tambahkan al- sebelum bait, misalnya: al-baitu kabiirun (Rumah itu besar). Jadi, maknanya berbeda. Mengapa? Karena al-bait disini menjadi mubtada’ (subyek), bukan mudhaf lagi, sedangkan kabiirun adalah khabar (predikat).
Metode "debat Kusir" dan "Logika Jungkir Balik" Penentang Allah
Saya sangat paham apabila LAI selama ini tidak pernah menggubris tuntutan kelompok sempalan ini, yang menuntut agar dalam Alkitab bahasa Indonesia dihilangkan kata Allah. Mengapa? Anda baru mengetahui alasannya, kalau anda mengikuti metode "debat kusir" dan "logika jungkir balik" mereka. Saya sekedar mengulang beberapa contoh:
Mula-mula mereka menuduh Allah itu "dewa air" berdasarkan beberapa rujukan yang mereka anggap mendukung, bahwa Allah pernah disembah bersama dewa-dewa kafir Mekkah pra-Islam. Tuduhan ini lalu saya tanggapi, Pertama: berdasarkan inkripsi-inskripsi Arab Kristen pra-Islam, yaitu Zabad (521 M) dan Umm al-Jimmal (perte-ngahan abad ke-6 M) bahwa Allah sudah dimaknai secara monoteistik Kristen, lengkap dengan foto-foto inskripsi, bacaannya, ulasan para ahli filologi, dan perkembangannya di gereja-gereja Arab setelah Islam hingga zaman kita sekarang; dan kedua: berdasarkan inskripsi Kirbeth el-Qom dan Kunlitet Ajrud, yang ditemukan di wilayah Hebron, Yahweh pun juga pernah disembah bersama dewi kesuburan, Asyera.
Tanggapan saya ditanggapi balik. Pertama, bukti-bukti pemakaian Allah menurut inskripsi pra-Kristen itu, menurutnya tidak membuktikan keabsahan kata Allah, melainkan karena orang Arab Kristen tidak tahu asal-usulnya. Jadi, Hendarto sudah mempunyai praduga dulu, bahwa Allah itu "dewa air", "dewa bulan", "dewa matahari", atau dewa apapun Allah itu, ia tidak perduli, yang penting kata itu harus ditolak. Ia tidak menyelidiki dulu, bahkan buku Roberts Morrey, yang lebih merupakan karya polemik yang sangat provokatif anti-Islam itu, disebutnya sebagai "bukti archeologis?".
Padahal, dalam buku ini tidak ada pembahasan arkheologis sama sekali, kecuali berbagai sumber bacaan yang dirangkai-rangkai tanpa penelitian mendalam. Juga buku Steppen van Natan, Allah: Divine or Demonic, yang lebih menyerupai traktat tersebut, bagaimana "buku sampah" begini bisa disejajarkan dengan hasil penelitian Prof. Littmann, misalnya, yang meneliti inkripsi-inskripsi Arab pra-Islam itu sangat menda-lam, bahkan banyak ahli-ahli lain yang reputasinya tidak diragukan, yang telah menyerahkan hampir seluruh hidup mereka untuk penelitian ilmiah.
Jadi, mereka menolak kata Allah berdasarkan buku-buku para penginjil yang berangkat dari asumsi teologis "hitam-putih" dan sama sekali tidak mempunyai keahlian di bidang sejarah dan arkheologi. Tetapi ketika saya counter dengan bukti-bukti sejarah, dikatakannya "bahwa itu hanya statement manusia, yaitu orang Islam dan Kristen Arab, yang tidak korelasinya dengan Firman Tuhan dalam Alkitab". Komentar ini, mungkin disebabkan karena saya tidak banyak "main kutip ayat-ayat" seperti mereka. Maksud-nya, banyak ayat Alkitab mereka ajukan untuk mendukung anggapan mereka bahwa nama Yahwe tidak boleh diterjemahkan, sedangkan mereka mamahami nama ilahi itu sama seperti nama-nama makhluk-Nya. Untuk menunjukkan kedangkalan pemikiran mereka, silahkan baca artikel saya: "Nama Yahweh: Harus Dipertahankan atau Boleh Diterjemahkan?".
Kedua, kalau saya buktikan bahwa Yahwe juga pernah disembah bersama dengan dewi Asyera, dengan enteng ia mengatakan bahwa itu hasil sinkretisme di Israel pada zaman dahulu, tanpa secara fair juga menerapkan penilaian yang sama untuk kata Allah, bahwa istilah Arab ini juga diartikan secara salah oleh orang-orang Arab pra-Islam. Padahal bahasa itu netral, tergantung apa makna yang kita berikan. Inilah yang saya namakan motode "debat kusir" alias debat tukang dokar, dengan "logika jungkir balik" mereka itu.
Yang lebih menggelikan lagi, Teguh Hendarto mengkoreksi terjemahan Alkitab al-Muqaddas (Today’s Arabic Version), terbitan Dar al-Kitab al-Muqaddas fi al-Syarq al-Ausath, Beirut, yang saya kutip dalam makalah saya. Ungkapan Laa Ilaha illa Allah (Tidak ada Ilah kecuali Allah) yang tercatat dalam 1 Korintus 8:4, dengan gayanya yang menggurui, katanya terjemahan yang benar: Laa Ilaha al-Wahid. Ini bahasa Arab apa? Tidak ada artinya sama sekali, dan terang saja akan ditertawakan santri desa yang baru belajar Juzz Amma. Tetapi, ya itulah kualitas rata-rata kaum Penentang Allah itu. Semua ini saya ungkap di sini, karena gerakan mereka semakin gencar dan ngawur, seperti yang akan kita lihat di bawah ini.
Teguran Keras Mubaliq se-Indonesia: Provokasi Opo maneh iki, Rek?
Sama ngototnya dengan Hendarto, kita juga dikacau oleh Pdt. Jacob Sulistyono, seorang penganut "sekte Yahweh" , yang lebih Yahudi ketimbang Yahudi sendiri, dalam perdebatannya di www.salib.net Banyak orang menduga, bahwa ia sendiri berada di belakang kasus "Surat Teguran Keras Mubaligh se-Indonesia", yang tidak jelas jun-trungannya itu. Menurutnya, Allah dalam Islam dan Yahwe dalam Kristen itu mutlak berbeda. "Umat Islam tidak suka orang Kristen menyebut Allah", tulisnya, "karena ada istilah Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus, sedangkan Islam percaya bahwa Allah itu tdk bisa disamakan dengan apapun". Hal ini sesuai dengan Al-Qur’an yang menyebutkan sebagai berikut:
Qul huwa llaahu ahad. Allahush shamad. Lam Yalid wa lam yulad. Wa Lam Yakun lahu kufuwwan ahad. Artinya: "Katakanlah Dialah Allah Yang Esa. Allah, Dia adalah tempat bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya (Q.s. al-Ikhlas 112/ 1 – 4).
Artinya: "Katakanlah Dialah Allah Yang Esa. Allah, Dia adalah tempat bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya (Q.s. al-Ikhlas 112/ 1 – 4).
Laqad kafar alladzina qaluu Innallaha huwa al-Masih ibn Maryam. Artinya: "Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah itu ialah al-Masih Putra Maryam" (Q.s. Al-Maaidah/5:17).
Artinya: "Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah itu ialah al-Masih Putra Maryam" (Q.s. Al-Maaidah/5:17).
Dengan keterangan di atas, ia seolah-olah malah membenarkan bahwa Tuhan orang Kristen itu beranak dan diperanakkan. Padahal mestinya, sebagai orang yang mengaku pengikut Kristus, justru seharusnya ia menjelaskan kepada umat Islam bahwa istilah Putra Allah itu bukan dalam makna "beranak dan diperanakkan", bukan malah membenarkannya, sekedar demi mendukung penolakannya atas istilah Allah. Q.s. al-Ikhlas ditujukan untuk menolak keyakinan pra-Islam di Mekkah, bahwa Allah mempu-nyai anak-anak perempuan, yaitu al-Latta, Uzza dan Manah.
Sedangkan Q.s. al-Maidah 17 lebih diarahkan kepada keyakinan semacam mujja-simah (antropomorfisme) bidat Kristen di Mekkah, yang menganggap bahwa Allah sama dengan tubuh kemanusiaan Yesus itu sendiri. Sudah barang tentu, keyakinan ganjil seperti ini juga tidak pernah dianut oleh orang Kristen manapun, baik itu gereja Katolik, gereja-gereja ortodoks dan reformasi Protestan sekarang ini.
Para ahli lain juga menghubungkan keyakinan yang diserang al-Qur’an itu dengan sekte bidat Kristen Maryamin (penyembah Maryam), yang memuja Maryam dan mengarak patungnya di sekeliling ka’bah serta mempersembahkan kepadanya collyrida (roti persembahan), sehingga disebut juga sekte Collyridianisme. Karena itu, tepatnya yang ditolak al-Qur’an adalah keyakinan pseudo-trinity yang terdiri: Allah, ‘Isa al-Masih dan Maryam (Q.s. an-Nisa’/4:171; al-Maidah/5: 73, 116), dan sema sekali tidak cocok diterapkan untuk keyakinan Kristen sebenarnya.
Sebelum saya tutup artikel ini dengan penjelasan singkat makna Putra Allah dalam Iman Kristen, perlu saya tanyakan mengenai tuntutan Mubaligh se-Indonesia? Lembaga ini kalau memang ada, mewakili siapa sehingga berani meng-claim dirinya seolah-olah seluruh umat Islam Indonesia? Ini sangat berbahaya bagi kerukanan umat beragama, apalagi kalau lembaga fiktif ini sengaja dibuat kelompok Kristen tertentu untuk meloloskan pandangan-pandangannya yang tidak ilmiah itu.
Makna term Putra Allah: Belajar
Dari "bahasa teologis" Kristen Arab
Kalau begitu, apakah makna sebenarnya istilah Putra Allah dalam Iman Kristen? Harus ditegaskan, bahwa tidak ada umat Kristen yang pernah mempunyai sebersit pemikiran pun bahwa Allah secara fisik mempunyai anak, seperti keyakinan primitif orang-orang Mekkah pra-Islam tersebut. Saya ingin menjelaskan metafora ini berda-sarkan teks-teks sumber Kristen Arab, supaya terbangun kesalingpahaman teologis Kristen-Islam di Indonesia. Sebab selama ini ada jarak yang cukup lebar secara kultural antara "bahasa teologis" Kristen Barat, yang memang tidak pernah bersentuhan dengan Islam, sehingga kesalahpahaman semakin berlarut-larut.
Istilah Putra Allah yang diterapkan bagi Yesus dalam Iman Kristen untuk mene-kankan praeksistensi-Nya sebagai Firman Allah yang kekal, seperti disebutkan dalam Injil Yohanes 1:1-3. Ungkapan "Pada mulanya adalah Firman", untuk menekankan bahwa Firman Allah itu tidak berpermulaan, sama abadi dengan Allah karena Firman itu adalah Firman Allah sendiri.
Selanjutnya, "Firman itu bersama-sama Allah", menekankan bahwa Firman itu berbeda dengan Allah. Allah adalah Esensi Ilahi (Arab: al-dzat, the essence), yang dikiaskan Sang Bapa, dan Firman menunjuk kepada "Pikiran Allah dan Sabda-Nya. Akal Ilahi sekaligus Sabda-Nya" (‘aqlullah al-naatiqi, au natiqullah al-‘aaqli, faahiya ta’na al-‘aqlu wa al-naatiqu ma’an), demikianlah term-term teologis yang sering dijumpai dalam teks-teks Kristen Arab. Sedangkan penegasan "Firman itu adalah Allah", mene-kankan bahwa Firman itu, sekalipun dibedakan dari Allah, tetapi tidak berdiri di luar Dzat Allah. Mengapa? "Tentu saja", tulis Baba Shenuda III dalam bukunya Lahut al-Masih (Keilahian Kristus), "Pikiran Allah tidak akan dapat dipisahkan dari Allah ( ‘an ‘aqlu llahi laa yunfashilu ‘an Allah)". Dengan penegasan bahwa Firman itu adalah Allah sendiri, makan keesaan Allah (tauhid) dipertahankan.
Ungkapan "Firman itu bersama-sama dengan Allah", tetapi sekaligus "Firman itu adalah Allah", bisa dibandingkan dengan kerumitan pergulatan pemikiran Ilmu Kalam dalam Islam, yang merumuskan hubungan antara Allah dan sifat-sifatnya: Ash Shifat laysat al-dzat wa laa hiya ghayruha (Sifat Allah tidak sama, tetapi juga tidak berbeda dengan Dzat Allah). Jadi, kata shifat dalam Ilmu Kalam Islam tidak hanya bermakna sifat dalam bahasa sehari-hari, melainkan mendekati makna hypostasis dalam bahasa teologis Kristen.
Dalam sumber-sumber Kristen Arab sebelum munculkan ilmu Kalam al-Asy’ari, hyposistasis sering diterjemahkan baik shifat maupun uqnum , "pribadi" (jamak: aqanim), asal saja dimaknai secara metafisik seperti maksud bapa-bapa gereja, bukan dalam makna psikologis. Sedangkan ousia diterjemahkan dzat, dan kadang-kadang jauhar. Istilah dzat dan shifat tersebut akhirnya dipentaskan kembali oleh kaum Suni dalam menghadapi kaum Mu’tazili yang menyangkal keabadian Kalam Allah (Al-Qur’an), sebagaimana gereja menghadapi bidat Arius yang menyangkal keabadian Yesus sebagai Firman Allah.
Kembali ke makna Putra Allah. Melalui Putra-Nya atau Firman-Nya itu Allah menciptakan segala sesuatu. "Segala seuatu diciptakan oleh Dia, dan tanpa Dia tidak sesuatupun yang jadi dari segala yang dijadikan" (Yohanes 1:3). Jelaslah bahwa mem-pertahankan keilahian Yesus dalam Iman Kristen, tidak berarti mempertuhankan kemanusiaan-Nya, apalagi dengan rumusan yang jelas-jelas keliru: "Sesungguhnya Allah adalah al-Masih Putra Maryam" (innallaha huwa al-masih ibn maryam).
Dalam rumusan ini, yang ditentang al-Qur’an adalah menyamakan kemanusiaan Yesus dengan Allah. Padahal yang kita dimaksudkan ketika mempertahankan keilahian Yesus, menunjuk kepada Firman yang kekal bersama-sama Allah, yang melalui-Nya alam semesta dan segala isinya ini telah diciptakan.
Dan karena sejak kekal Kristus adalah Akal Allah dan Sabda-Nya, maka jelaslah Firman itu adalah Allah. Karena Akal Allah berdiam dalam Allah sejak kekal (wa madaama al-Masih huwa ‘aql allah al-naatiqi, idzan faahuwa llah, lianna ‘aql allah ka’inu fii llahi mundzu azali). Dan karena itu pula, Firman itu bukan ciptaan (ghayr al-makhluq), karena setiap ciptaan pernah tidak ada sebelum diciptakan).
Secara logis, mustahillah kita membayangkan pernah ada waktu dimana Allah ada tanpa Firman-Nya, kemudian Allah menciptakan Firman itu untuk Diri-Nya sendiri. Bagaimana mungkin Allah ada tanpa Pikiran atau Firman-Nya? Kini kita memahami secara jelas ajaran Tritunggal Yang Mahaesa, bahwa Allah, Firman dan Roh-Nya adalah kekal, sedangkan Firman dan Roh Allah selalu berdiam dalam keesaan Dzat-Nya, berada sejak kekal dalam Allah).
Secara logis, mustahillah kita membayangkan pernah ada waktu dimana Allah ada tanpa Firman-Nya, kemudian Allah menciptakan Firman itu untuk Diri-Nya sendiri. Bagaimana mungkin Allah ada tanpa Pikiran atau Firman-Nya? Kini kita memahami secara jelas ajaran Tritunggal Yang Mahaesa, bahwa Allah, Firman dan Roh-Nya adalah kekal, sedangkan Firman dan Roh Allah selalu berdiam dalam keesaan Dzat-Nya, berada sejak kekal dalam Allah).
Selanjutnya, istilah Putra Allah berarti "Allah mewahyukan Diri-Nya sendiri melalui Firman-Nya". Allah itu transenden, tidak tampak, tidak terikat ruang dan waktu. "Tidak seorangpun melihat Allah", tulis Rasul Yohanes dalam Yohanes 1:18, "tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa Dialah yang menyatakan-Nya". Inilah makna tajjasad (inkarnasi). "Dengan inkarnasi Firman-Nya", tulis Baba Shenouda III, "kita melihat Allah. Tidak seorangpun melihat Allah dalam wujud ilahi-Nya yang kekal, tetapi dengan nuzulnya Firman Allah, kita melihat pewahyuan diri-Nya dalam daging" (Allahu lam yarahu ahadun qathu fi lahutihi, wa lakinahu lamma tajjasad, lamma thahara bi al-jasad).
Melalui Firman-Nya Allah dikenal, ibarat seseorang mengenal diri kita setelah kita menyatakan diri dengan kata-kata kita sendiri. Jadi, sebagaimana kata-kata se-seorang yang keluar dari pikiran seseorang mengungkapkan identitas diri, begitu Allah menyatakan Diri-Nya melalui Firman-Nya. Inilah maka ungkapan dalam Qanun al-Iman (Syahadat Nikea/Konstantinopel tahun 325/381), yang mengatakan bahwa Putra Allah yang Tunggal telah "lahir dari Sang Bapa sebelum segala zaman" (Arab: al-maulud min al-Abi qabla kulli duhur). Adakah di dunia ini seseorang yang dilahirkan dari Bapa? Jawabnya, tentu saja tidak ada! Setiap orang lahir dari ibu. Karena itu, Yesus disebut Putra Allah jelas bukan kelahiran fisik, tetapi kelahiran ilahi-Nya sebagai Firman yang kekal sebelum segala zaman.
Tetapi bukankah secara manusia Yesus dilahirkan oleh Bunda Maria? Betul, itulah makna kelahiran-Nya yang kedua dalam daging. Mengenai misteri ini, Bapa-bapa gereja merumuskan2 makna kelahiran (wiladah) Kristus itu, seperti dirumuskan dalam ungkapan yang indah:
As-Sayid al-Masih lahu miladain: Miladi azali min Ab bi ghayr umm qabla kulli ad-duhur, wa miladi akhara fi mal’i al-zamaan min umm bi ghayr ab. Artinya: "Junjungan kita al-Masih mempunyai dua kelahiran: Kelahiran kekal- Nya dari Bapa tanpa seorang ibu, dan kelahiran-Nya dalam keterbatasan zaman dari ibu tanpa seorang bapa insani’.
Artinya: "Junjungan kita al-Masih mempunyai dua kelahiran: Kelahiran kekal- Nya dari Bapa tanpa seorang ibu, dan kelahiran-Nya dalam keterbatasan zaman dari ibu tanpa seorang bapa insani’.
"Lahir dari Bapa tanpa seorang ibu", menunjuk kepada kelahiran kekal Firman Allah dari Wujud Allah. Tanpa seorang ibu, untuk menekankan bahwa kelahiran itu tidak terjadi dalam ruang dan waktu yang terbatas, bukan kelahiran jasadi (bi ghayr jasadin) melalui seorang ibu, karena memang "Allah tidak beranak dan tidak diper-anakkan". Jadi, dalam hal ini Iman Kristen bisa sepenuhnya menerima dalil al-Qur’an: Lam Yalid wa Lam Yulad, karena memang tidak bertabrakan dengan makna teologis gelar Yesus sebagai Putra Allah.
Sebaliknya, "Lahir dari ibu tanpa bapa", menekankan bahwa secara manusia Yesus dilahirkan dalam ruang dan waktu yang terbatas. Meskipun demikian, karena Yesus bukan manusia biasa seperti kita, melainkan Firman yang menjadi manusia, maka kelahiran fisik-Nya ditandai dengan mukjizat tanpa perantaraan seorang ayah insani. Kelahiran-Nya yang kedua ke dunia karena kuasa Roh Allah ini, menyaksikan dan meneguhkan kelahiran kekal-Nya "sebelum segala abad". Dan karena Dia dikandung oleh kuasa Roh Kudus, maka Yesus dilahirkan oleh Sayidatina Maryam al-Adzra’ (Bunda Perawan Maria) tanpa seorang ayah.
Dari deskripsi di atas, jelaslah bahwa ajaran Tritunggal sama sekali tidak berbicara tentang ilah-ilah selain Allah. Ajaran rasuli ini justru mengungkapkan misteri keesaan Allah berkat pewahyuan diri-Nya dalam Kristus, Penyelamat Dunia. Dalam Allah (Sang Bapa), selalu berdiam secara kekal Firman-Nya (Sang Putra) dan Roh Kudus-Nya. Kalau Putra Allah berarti Pikiran Allah dan Sabda-Nya, maka Roh Kudus adalah Roh Allah sendiri, yaitu hidup Allah yang abadi. Bukan Malaikat Jibril seperti yang sering dituduhkan beberapa orang Muslim selama ini. Firman Allah dan Roh Allah tersebut bukan berdiri di luar Allah, melainkan berada dalam Allah dari kekal sampai kekal
Jadi, jelaslah bahwa Iman Kristen tidak menganut ajaran sesat yang diserang oleh al-Qur’an, bahwa Allah itu beranak dan diperanakkan. Untuk memahami Iman Kristen mengenai Firman Allah yang nuzul (turun) menjadi manusia ini, umat Islam hendaknya membandingkan dengan turunnya al-Qur’an alam Allah (nuzul al-Qur’an). Kaum Muslim Suni (Ahl l-Sunnah wa al-Jama’ah) juga meyakini keabadian al-Qur’an sebagai kalam nafsi (Sabda Allah yang kekal) yang berdiri pada Dzat-Nya, tetapi serentak juga terikat oleh ruang dan waktu, yaitu sebagai kalam lafdzi (Sabda Tuhan yang temporal) dalam bentuk mushaf al-Qur’an dalam bahasa Arab yang serba terbatas tersebut.
Dan sperti fisik kemanusiaan Yesus yang terikat ruang dan waktu, yang "dibu-nuh dalam keadaannya sebagai manusia" (1 Petrus 3:18), begitu juga mushaf al-Qur’an bisa rusak dan hancur. Tetapi Kalam Allah tidak bisa rusak bersama rusaknya kertas al-Qur’an. Demikianlah Iman Kristen memahami kematian Yesus, kematian-Nya tidak berarti kematian Allah, karena Allah tidak bisa mati. Saya kemukakan data-data paralelisasi ini bukan untuk mencocok-cocokkan dengan Ilmu Kalam Islam. Mengapa? Sebab justru seperti sudah saya tulis di atas, pergulatan Islam mengenai Ilmu Kalam dirumuskan setelah teolog-teolog Kristen Arab, menerjemahkan istilah-istilah teologis dari bahasa Yunani dan Aram ke dalam bahasa Arab.
Akhirul Kalam, semoga tulisan ini semakin merangsang pembaca untuk meng-gumuli teologi kontekstual yang mendesak dibutuhkan gereja-gereja di Indonesia, khususnya dalam merentas jalan menuju dialog teologis dengan Islam. Bukankah dialog teologis Kristen-Islam selama ini sering mengalami kebuntuan, karena "kesenjangan bahasa teologis" antara keduanya, akibat tajamnya pengkutuban Barat-Timur selama ini? Marilah kita realisasikan pesan rasuli, supaya kita siap sedia segala waktu "untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu…." (1 Petrus 3:15), dan bukan malah menghabiskan energi kita untuk mengurusi "kelompok-kelompok kurang cerdas yang suka bikin onar" itu.
Bambang Noorsena
Madinat al-Tahrir, Cairo, 16 Nopember 2004.
Posted by
SB. Susanto
at
00:06
0
comments
Labels: Artikel
TIGA MACAM COBAAN
3 Macam Pencobaan
Bacaan : Lukas 4:1-2
Jika Anda membaca keseluruhan cerita dalam perikop di atas, seolah-olah iblis datang untuk memberikan bantuan dan pertolongan kepada Yesus tetapi sesungguhnya dia datang untuk mencobai dan berusaha untuk menjatuh-kan Yesus. Sedikitpun tidak ada tujuan yang baik di dalam diri iblis pada saat mencobai manusia. Ia datang untuk mencuri, membunuh dan membinasakan (Yoh 10:10). Iblis mencobai manusia untuk menghancurkan tetapi TUHAN mencobai manusia untuk menguji dan memurnikan.
Dengan cara bagaimana iblis mencobai dan menyerang manusia ?
1. Menyerang komitmen
“ jadikan batu menjadi roti…”
Yesus datang ke padang gurun tujuannya untuk puasa. Pada saat Ia merasa lapar, iblis mencobai Yesus dengan makanan. Ketika Anda mengambil komitmen untuk puasa maka iblis akan menggoda Anda dengan makanan. Tujuannya untuk apa? Jelas untuk menggagal-kan komitmen Anda dengan Tuhan.
Perhatikan : Pada saat Anda berjanji untuk hidup di dalam kekudusan, maka iblis berusaha untuk menggagalkan janji Anda dengan cara menyerang pikiran Anda dengan roh kenajisan. Pada saat Anda mengambil komitmen untuk hidup dalam kesabaran, maka iblis akan mendatangkan orang-orang yang memiliki “karunia” menjengkelkan.
Ketika Anda berjanji untuk setia kepada Tuhan, iblis akan berusaha mempengaruhi Anda untuk meninggalkan Tuhan. Demikian pula ketika Anda berjanji untuk setia dengan istri Anda, maka iblis tidak akan tinggal diam, dia akan menggoda Anda melalui “delila-delila”. Ingat, iblis akan menyerang komitmen Anda!!! Bagaimana reaksi Yesus sewaktu diserang oleh iblis? Dia lebih mementingkan kehendak Bapa (komitmennya dengan Bapa) daripada kepentingan perutnya sekalipun Dia sedang lapar.
Adam dan Hawa juga mengalami cobaan yang sama, mereka dicobai melalui makanan. Tetapi sayang sekali, mereka jatuh karena makanan. Demikian pula dengan Esau, dia kehilangan hak kesulungan karena makanan (semangkuk sup kacang merah).
Apa yang Anda cari? Apa yang Anda utamakan? Apa yang menjadi fokus Anda? Jangan Anda datang beribadah hanya karena ada acara makan-makan, tetapi carilah firman Tuhan! Hati-hati makanan bisa membuat Anda jatuh dan kehilangan hak Anda krajaanNya.
2. menawarkan kemewahan dunia
“ segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepadamu…”
Setan memberikan pertolongan, kekayaan dan kemuliaan hanya untuk menjerat manusia serta memisahkan manusia dari Allah. Setelah hubungan manusia dengan Allah rusak, dia akan menghancurkan dan membinasakan. Setan bisa memberikan kekayaan tetapi dengan satu syarat: manusia harus sujud menyembah.
“ Semua itu akan kuberikan kepadaMu, jika Engkau sujud menyembah aku .”
Matius 4:9
Sujud kepada setan artinya tunduk di bawah kuasa setan. Setan bisa memberikan kekayaan kepada Anda tetapi Anda akan berada di bawah kuasanya. Sebab itu jangan Anda tergoda dengan tawaran setan, apapun bentuknya. Jika iblis mencoba menawarkan kenikmatan dunia kepada Anda, ingatlah: Anda akan terjerat ke dalam keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup dan sebagai akibatnya Anda akan dilenyapkan bersama-sama dengan dunia
(I Yohanes 2:16-17).
3. mencobai TUHAN
Yesus menjawabnya, kataNya: “ Ada firman: jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”
Bangsa Israel seringkali mencobai Tuhan. Pada waktu mereka kekurangan air di padang gurun, mereka mencobai Tuhan dengan perkataan mereka. Mereka berkata: Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak? Tanpa sadar seringkali kita juga mencobai Tuhan seperti orang Israel. Di mana Tuhan? Kenapa saya sakit? Mengapa saya menderita? Bukankah seringkali kita mencobai Tuhan dengan mulut kita ?
Orang Israel tidak percaya sebelum mereka melihat mujizat. Sama seperti Tomas yang juga tidak percaya sebelum melihat Yesus yang telah bangkit. Tetapi berbahagialah jika Anda percaya meskipun belum melihat pertolongan Tuhan.
Sekarang apa rahasianya untuk bisa menang terhadap godaan dan cobaan iblis ?
Yesus bisa menghadapi semua godaan iblis karena Dia penuh dengan Roh Kudus (Lukas 4:1) dan juga penuh dengan firman. Yesus menghadapi godaan iblis dengan perkataan firman, Dia berkata : Ada tertulis…
Sebab itu jangan hadapi godaan iblis dengan kekuatan Anda atau dengan teori Anda tetapi hadapilah dengan firman dan Roh Kudus !!!
Posted by
SB. Susanto
at
00:02
0
comments
Labels: Khotbah Gembala
Minggu, 08 Juni 2008
Wisata Minahasa
Di bawah ini ada beberapa lokasi tujuan wisata di Minahasa, diantaranya: Bukit Kasih berada di desa Kanonang kecamatan Kawangkoan. Berjarak sekitar 55 km dari kota Manado. Bukit Kasih ini adalah lambang dari kerukunan antar umat beragama di Sulawesi Utara. Terdapat 5 tempat ibadah. Danau Tondano, berjarak kira-kira 37 km dari kota Manado. Anda bisa berenang di Kolam Renang Air Panas, Sumaru Endo, juga terdapat banyak restoran ikan danau di sepanjang tepian danau.



Posted by
SB. Susanto
at
21:56
0
comments
Labels: Gallery Wisata

