" Sebab itu, hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus."
Perjalanan hidup kekristenan kita harus makin lama makin kuat. Hari ini harus lebih kuat dibandingkan dengan hari kemarin. Besok harus lebih kuat daripada hari ini.
Menurut ayat di atas, apa yang membuat kita kuat? Jawabannya adalah kasih karunia Allah. Kalau sampai saat ini kita masih bisa ada sebagaimana kita ada, itu karena kasih karunia yang Tuhan berikan. Tanpa kasih karunia Allah, kita tidak mungkin seperti sekarang ini. Baik dalam usaha, pekerjaan maupun dalam pelayanan kita. Sebab itu mari kita pelihara kasih karunia yang Tuhan berikan kepada kita dan jangan kita sia-siakan.
Mengapa kita harus kuat?
Anda dan saya harus kuat karena Tuhan memposisikan diri kita sebagai seorang prajurit, olahragawan dan petani. Ketiga status ini membutuhkan kekuatan. Kita tidak akan bisa menjadi seorang prajurit yang baik apabila kita lemah. Kita juga tidak akan bisa mendapatkan mahkota juara jika kita tidak memiliki kesehatan dan kekuatan yang prima sebagai olahragawan. Sebagai petani, kita juga tidak akan bisa bekerja keras untuk memperoleh hasil kalau kita sakit-sakitan.
1. Sebagai Prajurit
II Timotius 2:3-4
“Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.”
Tuhan menempatkan kita sebagai seorang prajurit. Apa yang dituntut dari seorang prajurit?
a. Siap berjuang di medan perang
Tugas dari seorang prajurit yaitu berada di medan peperangan. Tahukah Anda bahwa setiap orang yang menjadi pengikut Yesus, sesungguhnya sedang berada di medan pertempuran?
Hidup kekristenan itu merupakan peperangan bukan permainan. Musuh kita bukan darah dan daging. Jadi selama yang kita hadapi itu masih ada darah dan dagingnya, mereka bukan musuh kita. Bahkan mereka yang suka menutup dan membakar gerejapun bukan musuh kita. Musuh kita adalah pemerintah atau penguasa kerajaan kegelapan.
Efesus 6:12
“ karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.”
Berapa lama kita harus berperang?
Wahyu 19:19
“Dan aku melihat binatang itu dan raja-raja di bumi serta tentara-tentara mereka telah berkumpul untuk melakukan peperangan melawan Penunggang kuda itu dan tentara-Nya.”
Anda dan saya berperang melawan tentara iblis sampai akhir jaman. Artinya, selama kita hidup di dunia, kita berada di medan perang. Peperangan yang paling sering kita hadapi adalah peperangan di dalam pikiran kita. Setiap detik iblis berusaha masuk dan mengendalikan pikiran kita. Jika ia berhasil mengendalikan pikiran kita, maka kita akan lebih mudah dikalahkan oleh iblis. Sebab itu kita harus jaga pikiran kita tetap bersih.
Supaya pikiran kita bersih sesuai dengan firman Allah, maka pikiran kita harus terbuka terhadap kebenaran. Itulah sebabnya kita membutuhkan pewahyuan dari Tuhan.
Kata “wahyu” Yunani: “apokalupto” artinya membuka pikiran. Itu berarti jika pikiran kita belum mendapatkan wahyu atau belum dibukakan, maka pikiran kita bisa menjadi liar dan tidak bisa dikendalikan. Penuh dengan kenajisan, kemarahan, kepahitan, kecurigaan dan sebagainya.
Amsal 29:18
Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat. Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum.
b. Tidak pusing soal penghidupan
Seorang prajurit yang mau berperang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupan. Itu berarti, siap tidak mendapat makanan dan tidak mendapatkan tempat tidur.
c. Kenakan selengkap senjata
Jika mau menang dalam peperangan, seorang prajurit harus mengenakan perlengkapan senjata Allah (Efesus 6:10-18).
2. Sebagai Olahragawan
II Timotius 2:5
“Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga.”
Selain sebagai prajurit, Anda dan saya juga diposisikan oleh Tuhan sebagai seorang olahragawan. Apa yang harus dilakukan oleh seorang atlit?
Wajib mengikuti perlombaan - Ibr 12:1
Tuhan tidak mau Anda dan saya hanya jadi penonton atau pengamat pertandingan. Tuhan mewajibkan kita menjadi pelomba yang masuk ke arena pertandingan. Apa yang harus kita perhatikan sebelum berlomba?
a. Disiplin dalam latihan
Untuk dapat meraih mahkota juara dibutuhkan kedisiplinan dalam berlatih. Demikian pula dengan perlombaan rohani.
I Timotius 4:7b-8
“ Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.”
b. Jaga makanan
Seorang atlit harus menjaga makanannya. Tidak boleh sembarangan memasukkan makanan ke dalam perut. Pola makan harus teratur agar tubuh menjadi bugar, sehat dan kuat untuk dapat bertanding.
c. Taati peraturan olahraga
Dalam perlombaan, seorang atlit harus mentaati semua aturan, jika tidak akan terkena diskualifikasi atau dikeluarkan dari gelanggang pertandingan.
3. Sebagai Petani
II Timotius 2:5-6
“Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya.”
Selanjutnya, Tuhan memberikan kita status sebagai seorang petani. Seorang petani harus bekerja keras agar dapat menikmati hasil. Apa yang harus dilakukan oleh seorang petani agar dapat memperoleh hasil yang maksimal?
a. Membajak lahan
Sebelum menanam benih, Anda dan saya harus mempersiapkan lahan lebih dulu. Kalau mau menanam padi, maka sawah harus kita bajak lebih dulu.
b. Menabur atau menanam benih
Setelah lahan disiapkan, petani harus menanam benih. Tanpa benih yang ditanam, mustahil seorang petani akan memperoleh hasil. Jadi kalau Anda ingin menuai hasil, maka syaratnya Anda harus menabur. Sebab itu jangan semua dijadikan roti untuk dimakan tapi sisihkan juga sebagai benih untuk ditabur (II Kor 9:6-10).
c. Menanti dengan sabar
Yakobus 5:7
“Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi.”
Seorang petani harus sabar menanti musim menuai. Ada musim untuk menanam dan ada musim untuk menuai. Sabarlah dalam menantikan janji-janji Tuhan karena DIA pasti menggenapi janji-Nya. Amin. Read More..



